-=[ Klick Go To My Homepage ]=-














!!Catatan Si Hitam!!
!!http://cekouff.blogspot.com/!!
0

Hikmah : Preman Yang Taubat

Minggu, 02 Desember 2012
Share this Article on :


Kisah nyata ini tentang delapan preman yang suka membuat onar dikampung halaman sebut saja kampung banyu. Keberadaan mereka meresahkan kehidupan warga. Saat malam, mereka 'nongkrong' diwarung kopi. Itu bukan sekedar ngopi,melainkan untuk pesta minuman. Mereka menghabiskan sepanjang malam dengan berjudi hingga pagi hari.
Siangnya, mereka berkumpul di pangkalan ojek. Mereka menggoda perempuan yang melewati pangkalan itu. Tak jarang,mereka sering meminta uang pada tukang ojek dan penumpangnya. Selebihnya,mereka berjudi ditempat itu. Dan ketika lapar tiba,mereka pergi kepasar dekat kampung. Tujuannya,untuk meminta jatah "keamanan". Begitulah kegiatan delapan preman itu sepanjang hari. Bisa dibilang,mereka ditakuti warga kampung dan pasar.
Keberadaan mereka itu dulu sangat meresahkan warga. Rusdi sebut saja demikian merupakan pentolan kelompok preman ini. Dia dianggap sang komandan, karena usianya lebih tua dari yang lain. Di antara rekan-rekannya,dia paling ditakuti. Dia punya satu anak. Istrinya, pergi ke Arab Saudi menjadi TKW. Sudah lama dia tidak pulang.
Seperti biasa,malam itu Rusdi dan kawan-kawan berkumpul diwarung kopi. Dia merasa aneh ketika melihat rekannya serius membicarakan sesuatu. Rusdi pun menanyakan perihal pembicaraan mereka. Ternyata,mereka sedang khawatir dengan rencana adanya pengajian di kampung itu. Seorang ustadz baru, Syakir, beserta istrinya, Hajar, keduanya sebenarnya mempunyai rencana hendak membuat kegiatan pengajian di kampung itu.
Rusdi pun sedikit berang. Berita itu mengerutkan dahinya. Bagi Rusdi, hal tersebut merupakan ancaman besar. Sebab, selama ini tak ada yang bisa menghalangi keberadaan mereka. Dengan adanya pengajian, dikhawatirkan gerak langkah mereka terganggu. Mereka mungkin tak bisa lagi berpesta minuman. Banyak orang akan melarang mereka. Dan itu bisa menjadi perlawanan kolektif.
Tanpa mereka sadari,Syakir dan Hajar berjalan kaki melewati warung itu. Rusdi dan rekan-rekannya lalu menghentikan pembicaraan. Perhatian mereka kemudian tertuju pada kedua orang itu. Sepasang suami istri yang baru dua tahun tinggal dikampung itu menyapa keberadaan mereka.
Tanpa ragu, Rusdi kemudian menghampiri mereka berdua. Dia berdiri tepat dihadapan mereka berdua. Syakir tak memiliki kecurigaan sedikitpun. Bahkan,dia menyapa Rusdi dengan baik. Tapi,dengan mengacungkan jari telunjuk,Rusdi lalu menanyakan perihal kabar akan didirikannya majelis ta'lim itu. Benarkah? Pertanyaaan   ini keluar dari mulut Rusdi.Syakir menjawab dengan penuh hormat dan rendah hati. Dia dan istrinya memang berencana membuat pesantren dikampung itu. Namun itu dilakukan secara bertahap. Dia terlebih dulu mengadakan pengajian dan majelis ta'lim. Rencana itu sudah mendapat restu dari pihak kelurahan dan tokoh masyarakat setempat. Dia minta maaf karena belum meminta pendapat Rusdi sebagai warga asli kampung itu.
Lalu,Rusdi mengacungkan telunjuknya kearah Syakir. Dia tidak suka jika dikampungnya ada pengajian. Dia melarang Syakir membuat majelis ta'lim. Baginya,itu hanya membuang-buang waktu waktu. Dia lalu mengancam ustadz dan ustadzah itu agar tidak melanjutkan rencana tersebut.
Jika tidak menuruti ancaman Rusdi,mereka berdua akan mendapat risiko berat. Tak tanggung-tanggung,Rusdi akan mengajak seluruh warga untuk mengusir pasangan suami istri itu. namun Syakir dan istrinya tetap bersikap tegar dengan ancaman tersebut. Sebab,dia mengadakan pengajian itu untuk mengajak penduduk agar dekat dengan Tuhan.
Ancaman yang diterima Syakir dan Hajar pada malam itu tak menyiutkan rencana mereka sedikitpun. Dia dan istrinya tetap mengajak orang sekampung  untuk menghadiri pengajian. Tak diduga,para penduduk ternyata sangat antusias menghadiri pengajian itu.
Rusdi dan ketujuh rekannya merasa diremehkan. Dia kemudian menghampiri pasangan ustadz itu kerumahnya. Namun sial,saat hendak mendamprat ustadz dan ustadzah itu,Rusdi dan rekannya malah dihadang dan memperoleh cercaan dari ibu-ibu dikampung itu. Alhasil,Rusdi dan rekannya malu besar. Mereka kemudian menyusun berbagai rencana lagi untuk menggagalkan kegiatan pengajian itu.
namun sayang,setiap kali Rusdi dan ketujuh rekannya hendak meneror dan menggagalkan kegiatan dakwah itu,mereka malah mendapat kesialan. Misalnya,ketika malam hari mereka hendak memutuskan saluran kabel listrik dimajelis ta'lim,diantara mereka malah ada yang kesetrum. Memang sial.
Begitulah seterusnya. mereka melakukan teror dan memfitnah kedua pasangan itu agar tidak disukai warga. Namun sayang,Allah SWT,seakan berpihak pada kedua orang tersebut. Sebab,lambat laun,majelis ta'lim yang didirikan itu terus berkembang. Bahkan,setelah mendapat bantuan dana dari pemerintah dan masyarakat,mereka mendirikan asrama khusus untuk santri yang hendak mengaji kepada mereka.
Semakin lama,lembaga pendidikan Islam itu kian berkembang.Dan keberadaan delapan preman itu seakan hilang ditelan massa. Diantara mereka ada yang pergi ke kota dan kerja keluar negri. mereka tidak mampu berbuat apa-apa dengan semakin berkembangnya lembaga pendidikan itu. Jumlah mereka yang semula delapan orang tetap tidak berubah. Sebab kepergian sebagian rekannya,kemudian diganti dengan pemuda lain. Inilah kepandaian Rusdi dalam mengajak pemuda setempat untuk masuk dalam kelompoknya.
Pesantren Ustadz H,Syakir dan Hj.Hajar berkembang pesat. lembaga pendidikan formal kemudian didirikan. Santrinyapun sudah mencapai ratusan orang. Namun ditengah perjuangan dijalan Allah itu,Hj.Hajar meninggal dunia diusia muda karena sakit. Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun.
Dia meninggalkan suami tercinta dan kelima anaknya. Sebelum meninggal,dia sempat berpesan kepada suaminya agar menikah lagi. Sebab,dia ingin perjuangan suaminya terus dilanjutkan. Caranya,dia harus menikah agar ada yang mendampingi setiap langkah perjuangannya. Almarhumah kemudian dimakamkan ditanah wakaf dikampung itu.
Meninggalnya Hj.Hajar ternyata membuat senang Rusdi dan ketujuh rekannya. Sebab dengan demikian,permusuhan mereka dengan keluarga pesantren itu akan dimenangkan oleh mereka. Ustadz H.Syakir akan merasa lemah jika ditinggalkan istrinya.
Waktu silih berganti. Tahun pun berganti tahun. Rusdi tetap saja Rusdi yang dulu. Belum ada perubahan mendasar dalam hidupnya. Dia bahkan menjadi kepala preman yang semakin ditakuti di kampung dan di pasar. Dalam dirinya tak ada perubahan untuk kejalan yang lebih baik. Begitupun dengan ketujuh rekannya.
Disisi lain,Ustadz H.Syakir tetap sibuk dengan pesantrennya. Sesuai dengan wasiat istrinya yang dulu,dia kemudian menikah dengan seorang wanita salehah. Baginya,alm.Hj.Hajar merupakan inspirasi dalam kelanjutan perjuangan hidupnya.
Lalu singkatnya,30 tahun kemudian,Ustadz H.Syakir menjadi orang tua mulai yang sakit-sakitan. Urusan pesantren dikelola oleh santri dan anak-anaknya. Dan Rusdi pun kini seorang kakek. Ketujuh rekannya juga menjadi orang tua yang tak pernah berhenti menjadi penguasa dipasar dan kampung itu.
Ditengah sakit keras, Ustadz H.Syakir berwasiat kepada anak-anaknya agar dia dikebumikan dilingkungan pesantren jika meninggal. Dia ingin dikebumikan dipesantrennya berdampingan dengan jenazah istrinya yang dulu. Dia meminta agar jenazah alm. Hj.Hajar dipindahkan disamping kuburannya kelak. Sebab,dia ingin seluruh keluarganya dikebumikan disatu tempat yaitu dipesantren yang ia bangun. Kemudian,tibalah saatnya Allah SWT mencabut nyawa Ustadz bersahaja itu.Innalillahi wa innaa ilaihi rajiuun.
Tak lama setelah Ustadz H.Syakir dimakamkan,beberapa bulan kemudian ahli warisnya menjalankan wasiat sang ayah. Mereka mengumpulkan seluruh santri dan pemuda untuk mengeduk kuburan alm. Hj.Hajar dan memindahkan jenazahnya dihalaman belakang pesantren. Dan berita tentang pengedukan itupun tersiar ditelinga penduduk.
Warga kampung sempat heboh. Berita itu cukup mengagetkan warga. Namun karena itu merupakan wasiat dari tokoh ulama setempat,warga akhirnya menerima keputusan ahli waris untuk membongkar kuburan itu.
Rusdi dan ketujuh rekan-rekannya penasaran dengan berita itu. Mereka sempat tertawa di pasar ketika mendengar kabar itu. Ada rasa geli dan jijik membayangkan jika jenazah yang sudah menjadi tengkorak itu bisa dipindahkan. Bagaimana mungkin tengkorak itu bisa dipindahkan. Yang tersisa paling batang-batang tengkorak yang sudah rapuh dan penuh tanah.
Suatu malam,Arigayo yang masih menjadi ketua pemuda kampung itu mendatangi Rusdi dirumahnya. Dia mengajak Rusdi untuk ikut dalam pengedukan kuburan Hj.Hajar. Sebab,bagaimanapun,Rusdi merupakan orang tua yang sangat diperhitungkan dikampung itu.
Ajakan untuk mengeduk kuburan itu kemudian Rusdi sampaikan kepada rekan-rekannya. Ada rasa risih membayangkan tengkorak jenazah Hj.Hajar. Namun,setelah dipikir panjang,dia kemudian menerima ajakan ketua pemuda itu. Dengan catatan,dia hanya mau menghadiri saja. Biar anak-anak buahnya yang ikut mengeduk kuburan.
Saat hari pengedukan kuburan tiba,tidak banyak warga yang hadir. Hanya beberapa pemuda dan orang tua saja. Lantunan kalimat tahlil dikumandangkan para pelayat dilokasi kuburan. Sedikit demi sedikit,tanah liatpun dicangkul. Rusdi hanya diam diantara kerumunan warga.
lima orang pencangkul tiba-tiba berhenti. Dia ingin digantikan dengan orang lain. Warga yang hadir meminta orang melanjutkan pengedukan. Dan Rusdi tidak bisa mengelak saat diminta ketua pemuda  dan warga sekitar untuk mengeduk kuburan itu.Rusdi dan beberapa rekannya akhirnya ikut mengeduk kuburan tersebut.
Rasa kebencian Rusdi pada almarhum semasa hidupnya belum juga hilang. Dia masih teringat,dia sempat dibuat malu besar karena dituding sebagai warga yang jauh dari agama dan dijuluki sebagai pemabuk sejati. Ingatan itu belum juga hilang dibenak Rusdi. Saat cangkul perlahan membongkah tanah kuburan itu,dia masih belum rela dengan sikap almarhumah. Dendam dihatinya belum juga hilang. Hingga kemudian,cangkulnya mengenai tepat dibagian daging lengan jenazah.
MasyaAllah. Yang mengenai cangkul Rusdi ternyata bukan tengkorak,melainkan daging yang masih utuh. Semua penggali tertegun diam. Ada rasa aneh dan kagum. Begitupun dengan Rusdi dan kawan-kawannya. Jenazah itu masih utuh dengan beberapa helaian kafan yang juga masih utuh. Setelah jenazah diangkat,ternyata memang benar jenazah itu masih utuh dan tidak rusak sedikit pun.
Rusdi hanya diam dan merasa aneh. Kok bisa,jenazah sudah lama masih utuh. Setelah jenazah itu diangkat keatas,Rusdi diam sendiri disamping jenazah. Dia lalu memisahkan diri dari kerumunan massa. Begitupun dengan rekan-rekannya. Tanpa disadari,butiran air mata keluar dari kelopak mata Rusdi. Satu kata yang keluar dari mulutnya. Astaghfirullahal adzim.
Dia lalu bersimpuh ditanah. Selama ini dia merasa bersalah. Apa yang dia saksikan adalah peringatan baginya dan rekan-rekannya. Dia kemudian sadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini adalah salah. Sekian tahun dia telah bergulat dalam dosa dan maksiat. Dia kemudian mengumpulkan rekan-rekannya untuk sadar bahwa minuman keras,berjudi dan merampas hak orang dipasar merupakan perbuatan yang tidak halal. Apa yang disampaikan almarhumah sekitar 30-an tahun silam kini diingatnya kembali. Usai peristiwa itu,Rusdi dan ketujuh temannya kembali kejalan yang benar. Mereka tidak lagi mabuk dan berjudi. Mereka juga meninggalkan pekerjaan yang merampas hak orang lain dipasar. Semua itu dia tinggalkan. Kini,Rusdi bekerja sebagai tukang ojek biasa. Meski penghasilannya kecil,namun itu lebih baik ketimbang merampas hak orang lain. Begitu pun dengan rekan-rekannya. Sebagian dari mereka mengikuti jejak Rusdi. Bahkan,satu diantaranya menjadi santri dipondok pesantren milik alm.. Ustadz  H.Syakir. Subhanalloh......


Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

Read more: http://blogkomputer12.blogspot.com/2012/06/tips-memasang-widget-untuk-mempercantik.html#ixzz2CsoLdPTs

Blogger news

Column 1

Musik

Pages

Popular Posts