-=[ Klick Go To My Homepage ]=-














!!Catatan Si Hitam!!
!!http://cekouff.blogspot.com/!!
0

MAKALAH HAMA TANAMAN

Minggu, 26 Januari 2014
Share this Article on :

Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros

ABSTRAK
Hama dan Penyakit merupakan kendala utama dalam budidaya jagung. Banyak jenis hama dan penyakit dilaporkan pada tanaman jagung, namn ada beberapa yang menjadi hama dan penyakit utama, yaitu yang dapat menimbulkan kerusakan secara ekonomis. Beberapa hama utama pada jagung yaitu lalat bibit, ulat grayak, penggerek tongkol, penggerek batang, belalang, kutu daun, kumbang bubuk. Sedangkan penyakit utama pada jagung yaitu penyakit bulai, karat daun, bercak daun, hawar daun, hawar upih, busuk batang, busuk tongkol/biji dan virus mosaic. Komponen-komponen pengendalian hama dan penyakit yang banyak direkomendasikan meliputi varietas tahan, kultur praktis, penggunaan musuh alami dan aplikasi pestisida. Mengingat banyaknya faktor-faktor luar yang dapat mempengaruhi perkembangan baik hama maupun penyakit , maka perlu perakitan komponen-komponen pengendalian tersebut dalam suatu program pengendalian terpadu yang lazim disebut dengan PHT.
Kata Kunci : teknologi pengendalian, Hama penyakit

PENDAHULUAN
Hama dan penyakit merupakan kendala utama dalam produksi jagung. Kerusakan akibat hama penyakit pada jagung pernah dilaporkan mencapai 26,5% (Sudjono dalam Subandi et al. 1988). Untuk mengatasi kehilangan tersebut perlu adanya usaha untuk menekan perkembangan hama penyakit tersebut. Sekitar 70 jenis serangga hama (Ortega, 1987) dan 100 macam  penyakit (Shurtleff, 1980) telah dilaporkan menyerang tanaman jagung, namun hanya beberapa yang secara ekonomi sering menimbulkan kerusakan berat (Anonymous, 1995; Shurtleff, 1980; Sumartini dan Hardaningsih, 1995). Beberapa jenis hama yang dilaporkan sering menimbulkan kerusakan ekonomis yaitu lalat bibit (Atherigona sp.), ulat grayak (Spodoptera sp.), kumbang landak (Dactylispa sp.), kutu daun/aphis (Rhopalosiphum maydis), penggerek batang (Ostrinia furnacalis), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), dan kumbang bubuk (Sitophilus sp.) (Anonymous, 1995). Sedangkan jenis penyakit utama yang sering menimbulkan kerusakan pada jagung yaitu penyakit bulai (Peronosclerospora sp.), penyakit karat (Puccinia sp.), bercak/hawar daun (Drechslera/Helminthosporium sp.), hawar upih (Rhizoctonia sp.), busuk tongkol/batang (Fusarium sp., Diplodia sp.), busuk biji (Aspergillus spp., Fusarium sp., dll.), dan virus mosaik (virus mosaik tebu, virus kerdil jagung) (Shurtleff, 1980). Untuk dapat mengendalikan hama penyakit jagung tersebut perlu adanya komponen- komponen pengendalian yang efektif terhadap masing-masing hama penyakit. Komponen-komponen pengendalian yang banyak direkomendasikan dalam pengendalian hama penyakit jagung pada garis besarnya meliputi : varietas tahan, cara kultur praktis, musuh alami, dan pestisida. Penggunaan pestisida yang telah berkembang pesat ternyata banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti timbulnya spesies hama resisten, binasanya mahluk-mahluk berguna bukan sasaran, terjadinya pencemaran lingkungan, dan keracunan pada manusia (Oka, 1995). Mengingat banyaknya faktor luar yang mempengaruhi perkembangan hama maupun patogen serta tanaman jagung itu sendiri, perlu perakitan komponen-komponen pengendalian tersebut dalam suatu kegiatan yang dikenal sebagai pengendalian hama penyakit terpadu (PHT).
Dalam pengendalian terpadu harus selalu memperhatikan etika lingkungan yang ekosentrik, sehingga penggunaan pestisida berbahaya secara bijaksana diusahakan sebagai alternatif terakhir, apabila tidak ada cara lain yang bisa diterapkan (Oka, 1995; Flint dan Bosch, 1990).

PERANAN KOMPONEN PENGENDALIAN
Peranan varietas tahan
Penggunaan varietas tahan telah dinyatakan sebagai cara pengendalian yang baik, bisa dipadukan dengan cara lain (Saleh, 1993). Varietas tahan hama penyakit akan menghambat perkembangan hama penyakit sehingga menekan tingkat serangan dan kehilangan hasil pada level yang lebih rendah.  Mekanisme ketahanan varietas dapat bersifat non-preferensi, antibiosis, dan toleransi tanaman (Painter, 1951).
Peranan kultur praktis
Kultur praktis akan mengurangi sumber inokulum. Beberapa kegiatan dalam kultur praktis meliputi : membasmi tanaman sumber inokulum, mengatur waktu tanam yang tepat dan serempak, tumpang sari, rotasi tanaman, pengolahan tanah yang baik, drainase yang baik, irigasi yang baik, pemupukan yang berimbang, waktu panen yang tepat, penggunaan mulsa, tanaman perangkap, pemangkasan, dan pola tanam (Oka, 1995).
Peranan musuh alami/antagonis
Musuh alami yang meliputi vertebrata, predator, parasit, patogen hama, dan mikroorganisme antagonis akan menghambat laju perkembangan hama maupun penyakit. Predator adalah serangga yang memangsa serangga lain yang umumnya lebih kecil. Sebaliknya parasit adalah umumnya serangga kecil yang menginfeksi serangga dewasa, larva atau telur serangga yang lebih besar. Patogen adalah mikroorganisme yang menginfeksi serangga ataupun tanaman. Sedangkan mikroorganisme antagonis adalah mikroorganisme yang mampu memarasit langsung ataupun mengeluarkan zat yang menghambat mikroorganisme lain.
Peranan pestisida
Pestisida kimia berperan membasmi hama dan patogen penyebab penyakit secara langsung. Namun dibalik itu dapat menimbulkan resistensi serangga terhadap pestisida (Saleh, 1993). Karena sifat meracuninya tidak spesifik, maka dapat membasmi serangga berguna yang bukan sasaran. Selain itu dapat membahayakan bagi hewan atau manusia yang mengkonsumsi hasil pertanian yang disemprot. Mengingat akan pengaruh negatif dari pemakaian pestisida kimia ini maka penggunaannya hanya dibolehkan dalam keadaan yang terpaksa kalau tidak ada cara lain yang lebih aman atau pada pertanaman yang tidak untuk memproduksi bahan pangan atau pakan seperti untuk produksi benih.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU (PHT)
Pengendalian hama penyakit terpadu merupakan suatu cara pengendalian yang dilakukan dengan memadukan berbagai komponen pengendalian dengan maksud untuk mencapai hasil yang optimal dengan biaya yang minimal dan ramah lingkungan. Painter (1951) mengemukakan bahwa kombinasi cara pengendalian akan lebih efektif dibanding dengan cara pengendalian tunggal masing-masing.
A.  PHT untuk Hama Jagung
1. Hama lalat bibit (Atherigona sp.)
Daerah sebaran
:
Jawa, Sumatera, Sulawesi, NTT.
Tanaman inang lain
:
Jagung, padi gogo, sorgum, gandum, dan rumput   Cynodon dactylon, Panicum repens serta Paspalum   conjugatum
Gejalanya
:
Daun muda yang masih menggulung karena pangkalnya tergerek larva. Larva yang sampai ketitik  tumbuh menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh lagi.
Penyebabnya
:
Lalat Atherigona sp.
Imago aktif pada sore hari jam 16.00. Periode imago 7 hari. Telur diletakkan pada permukaan bawah daun secara terpisah satu sama lain. Periode telur 1-3 hari. Lama stadium larva antara 8-10 hari dan stadium pupa antara 5-11 hari. Staidum imago rata-rata delapan hari. Pupa berada dalam tanah dekat dengan tanaman, namun kadang-kadang pada tanaman.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian yang diperlukan  : 1) Pergiliran tanaman, 2) Tanam serempak, 3) Aplikasi insektisida : Tiodicarb 75 WP, 15 g/kg benih; Karbosulfan 2,5 g/kg benih; Karbofuran 10 kg/ha melalui titik tumbuh pada serangan mencapai 12%, 4) Menyebar mulsa jerami padi merata sebanyak 5 t/ha setelah tanam jagung (Anonymous, 1995; Tandiabang, 2000).
Oleh karena hama ini menyerang pada awal pertumbuhan tanaman jagung mulai tumbuh sampai umur tiga minggu (Tandiabang, 2000), maka cara pengendaliannyapun harus sedini mungkin. Varietas tahan terhadap lalat bibit belum dikembangkan di Indonesia. Cara kultur praktis juga belum direkomendasikan. Salah satu cara yang dianjurkan yaitu menggunakan pestisida kimia sistimik berbahan aktif carbofuran dengan takaran 0,12 kg – 0,24 kg b.a/ha diberikan melalui tanah bersama biji pada waktu tanam atau diberikan pada kuncup daun umur tanaman satu minggu.
2.  Hama Ulat grayak (Spodoptera sp., Mythimna sp.)
Daerah sebaran
:
Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya
Tanaman inang lain
:
Jagung, teki, kedelai, dan kacang-kacangan
Gejalanya
:
Daun berlubang-lubang atau tinggal tulang daunnya.
Penyebabnya
:
Spodoptera sp.
Ngengat berwarna coklat, aktif di malam hari. Telurnya berwarna putih sampai kekuningan, berkelompok. Tiap ekor bisa bertelur 400 butir, periode telur 5 hari.  Larva aktif dimalam hari, umur larva 31 hari, stadium kepompong 8 hari.
Pengendalian
:
Komponen pengendaliannya meliputi  : 1) Pergiliran tanaman, 2) Tanam serempak, 3) Sanitasi inang liar, 4) Penyemprotan dengan insektisida  : monokrotofos, klorpirifos, diazifos, sianofenfos, dan karboril dosis 2 cc/l (Anonymous, 1995), 5) Aplikasi parasitoid, Trichogramma evanescens] (Pabbage, 2003)
3.  Hama Penggerek batang (Ostrinia furnacalis)
Daerah sebaran
:
Asia, Eropa, dan Amerika
Tanaman inang lain
:
Jagung, sorgum, terong, Amaranthus sp., Panicum sp.
Gejalanya
:
Adanya lubang gerekan pada batang dengan kotoran   menutupi lubang gerekan
Penyebabnya
:
Ostrinia furnacalis Guenee.
Ngengat betina bertelur mencapai 90 butir, tersusun rapi dalam satu kelompok. Periode telur 3-5 hari. Larva instar  I dan II memakan daun muda. Larva instar III menggerek batang. Stadia larva antara 19-28 hari. Pupa terbentuk dalam batang jagung. Stadia pupa antara 5-10 hari. Siklus hidup sekitar satu bulan (Anonympus, 1995; Tandiabang, 2000)
Pengendalian
:
Komponen pengendaliannya meliputi komponen pengendali terpadu : 1) Pergiliran tanaman, 2) Tanam serempak, 3) Sanitasi inang liar, 4) Pemangkasan bunga jantan 25%, 5) Pemberian biopesisida Dipel (Bacillus thuringiensis, 6) Aplikasi insektisida monokrotofos, Triazopos, dan Karbofuran 3G melalui pucuk (Anonymous, 1995)
4.  Hama Penggerek tongkol (Helicoverpa armigera)
Daerah sebaran
:
Diseluruh dunia termasuk di Indonesia
Tanaman inang lain
:

Gejalanya
:
Adanya lubang-lubang melintang pada daun tanaman stadia vegetatif. Rambut tongkol jagung terpotong, ujung tongkol ada bekas gerekan dan seringkali ada larvanya.
Penyebabnya
:
Helicoverpa armigera (Hbn.)
Telur diletakkan satu persatu pada rambut tongkol atau bagian tanaman lain pada waktu sore sampai malam hari. Banyaknya telur per ekor ngengat mencapai 1000 butir. Stadia telur 2-5 hari. Larva mengalami 6 instar dalam periode waktu 17-24 hari. Pupa terbentuk didalam tanah selama 12-24 hari. Satu siklus hidupnya sekitar 35 hari.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian terpadu: 1) Menanam varietas jagung yang kelobotnya menutup tongkol rapat, 2) Menggunakan musuh alami seperti  : a). Parasit telur Trichogramma sp, b. Parasit telur larva muda Eriborus sp., Tachinid, c. Cedawan entomophaga Metharhizium, d. Nuclear Polyhidrosis virus (NPV), 3) Penyemprotan insektisida pada ambang kerusakan 3 tongkol per 50 tanaman dengan Azodrin 15 WSC, Hostation 40 EC atau Nogos 50 EC (Anonymous, 1995)
5.  Hama Kutu Daun (Aphis)
Daerah sebaran
:
Diseluruh daerah beriklim tropis
Tanaman inangnya
:
Jagung, sorgum, jewawut, tebu, tuton
(Panicum colonum), bunto, tanjing (Pennisetum macrostychum)
Gejalanya
:
Gejala langsung apabila populasi tinggi helaian daun menguning dan mengering. Gejala tidak langsung sebagai vektor virus menimbulkan mosaik ataupun garis-garis klorose sejajar tulang daun.
Penyebabnya
:
Aphis (Rhopalosiphum maydis Fitc).
Serangga berwarna hijau, ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Pada bagian belakang ruas abdomen kelima terdapat sepasang tabung sifunkulus.
Pengendalian
:
Komponen untuk pengendalian secara terpadu  meliputi : 1) Musuh alami : + Predator (Harmonia actomaculata dan H. syrphids, 2) Parasit, 3) Insekktisida systematik karbofuran di berikan melalui   pucuk pada sladia vegetatif (Anonymous, 1995)
6. Hama Kumbang Landak
Daerah sebaran
:
Jawa, Sumatera, Sulawesi.
Tanaman inangnya
:
Jagung, Sorgum, Padi dan Ilalang.
Gejalanya
:
Bekas gerekan pada daun sejajar dengan tulang daun. Serangan yang berat dapat menyebabkan daun mengering.
Penyebabnya
:
Dactylispa balyi Gest.
Sayap depan tebal dan sayap belakang tipis berwarna hitam. Telurnya di letakkan di jaringan daun muda sebelah atas diantara epidermis daun. Seekor betina bertelur sampai 75 butir. Periode telur 6-13 hari. Larva hidup dan makan didalam jaringan daun. Stadia larva I – IV sekitar 18-24 hari. Kepompong berada pada daun yang mengering. Stadium kepompong 8 –14 hari.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian terpadu meliputi : 1) Waktu tanaman serempak, 2) Pergiliran tanaman, 3)  Sanitasi inang liar dan sisa tanaman, 4) Aplilkasi insektisida efektif seperti klorpirifos dan isosaktion (Anonymous, 1995)
7. Hama Kumbang Bubuk (Sitophilus sp)
Daerah sebaran
:
Tersebar luas di seluruh dunia
Tanaman inangnya
:
Beras, jagung, sorgum, dan kacang-kacangan
Gejalanya
:
Biji jagung berlubang-lubang dan bercampur kotoran serangga serta banyak kumbang bubuk. Kumbang bubuk menyerang mulai dari lapangan sampai digudang  penyimpanan biji.
Penyebabnya
:
Kumbang Sitophilus sp (Motsch).Serangga                  betina mampu bertelur 300-500 butir. Periode   telur 3-7 hari. Serangga dewasa tanpa diberi makan dapat bertahan hidup 36 hari, dan bila diberi makan dapat hidup antara 3-5 bulan.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian terpadu meliputi : 1) Varietas tahan : Genyah Madura dan Goter, 2) Pengeringan benih/biji kadar air 10%, 3) Sanitasi tempat penyimpanan biji, 4) Pengasapan, 5) Bahan nabati untuk di campur biji sebelum disimpan : serbuk daun putri malu, daun mendi, daun nimba, akar tuba, biji mahoni dan rimpong dringo, dengan takaran 20-110 gram/kg biji, 5) Kapur barus atau insektisida karbofuran dibungkus kain dimasukkan kedalam kontainer/jerigen jagung sebelum ditutup (Anonymous, 1995)
8.  Hama Semut, Tikus, Burung, dan Ayam
Daerah sebaran
:
Di seluruh wilayah Indonesia
Tanaman inangnya
:
Segala macam biji-bijian sereal maupun kacang-kacangan
Gejalanya
:
Biji jagung yang baru ditanam dimakan atau diangkut semut, burung maupun ayam dan tikus.  Semut-semut menggali lubang untuk mendapatkan biji yang belum tumbuh. Biji diambil sedikit-demi sedikit dan diangkut sampai habis. Burung, ayam dan tikus mengais biji dari lubang tugal.
Penyebabnya
:
Semut merah, tikus sawah, burung tekukur, dan ayam.
Pengendalian
:
1) Biji yang belum ditanam dapat diberi perlakuan insektisida anti semut Furadan maupun Sevin dalam bentuk suspensi dalam air. Aplikasi Furadan 3 G juga dapat dilakukan dengan menaruh butiran Furadan pada lubang tugal bersama biji jagung sebelum ditutup tanah atau abu, 2) Aplikasi Sevin juga dilaukan dengan penyemprotan suspensi Sevin pada biji pada lubang tanam sebelum ditutup, 3) Untuk mengendalikan tikus, burung, atau ayam dapat dilakukan dengan menyebarkan umpan biji jagung yang telah dicampur dengan racun tikus (zink phosphit atau racun babi), pada saat benih baru ditanam.
9. Hama/Gangguan Anjing/Babi
Daerah sebaran
:
Di seluruh daerah dimana ada anjing liar
Tanaman inangnya
:

Gejalanya
:
Anjing/babi menyerang tanaman jagung pada stadia pengisian biji. Batang-batang jagung dirobohkan dan tongkolnya yang dirobek kelobotnya dan dimakan bijinya ditinggal berserakan.
Penyebabnya
:
Anjing piaraan atau anjing/babi liar yang sering berkeliaran diladang atau kebun.
Pengendalian
:
Memasang racun dengan umpan berupa bakso, ikan, daging, atau tulang berdaging untuk anjing, dan ubikayu atau umpan lainnya yang disukai babi. Racun yang digunakan dapat dengan racun yang untuk babi hutan. Selain racun ada informasi menggunakan duri-duri pelepah daun rebung bambu dicampur pada umpan atau menaruh jarum-jarum didalam umpan dapat membunuh anjing/babi.
B. PHT untuk Penyakit Jagung
1. Penyakit Bulai (Peronoscleropora spp)
Daerah sebaran
:
Diseluruh propinsi di Indonesia
Tanaman inangnya
:
Jagung, sorgum, tebu, beberapa jenis rumput rumputan.
Gejalanya
:
1) Khlorose sebagian atau seluruh helaian daun. Pada permukaan yang khlorose tampak ada massa tangkai konidia berupa tepung putih. Konidia terbentuk pada malam hari dan lepas menjelang pagi hari, 2) Tanaman terinfeksi awal terjadi khlorose berat dan dapat mati, atau tumbuh kerdil, 3) Tongkol tidak tumbuh sempurna dan sering tidak terbentuk biji atau bijinya jarang.
Penyebabnya
:
1) Cendawan Peronosclerospora maydis, P. philippinenisis, P. sacchari, P. sorghi, P. heteropogoni, P. spontanea, P. miscantii, Seclerophthora macrospora, S. rayssiae dan Sclerospora graminicola (Wakman dan Djatmiko, 2002). Namun di Indonesia hanya dua pertama yang dilaporkan (Semangun, 1973; Sudjono, 1988). Baru-baru ini dilaporkan adanya P. sorghi menyerang tanaman jagung di dataran tinggi Karo Berastagi Sumatera Utara (Wakman et al., 2003), 2) Cendawan menginfeksi tanaman jagung yang baru tumbuh. Konidia yang lepas dari konidiofor di waktu subuh apabila jatuh pada air gutasi di pucuk tanaman jagung yang baru tumbuh akan berkecambah dan menginfeksi melalui stomata terus berkembang sampai titik tumbuh dan seterusnya menyebar secara sistimik.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian untuk PHT meliputi : 1) Varietas tahan bulai : Lagaligo, Surya, BISI-4, Pioneer     (P)-4, P5,P9,P10,P12 (Wakman et al., 1999; Wakman, 2000), 2) Tanam serempak, 3) Periode bebas tanaman jagung, 4) Aplikasi fungisida berbahan aktif metalaksil melalui biji. (Shurtleff, 1980; Sudjono, 1988; Sumartini dan Hardaningsih, 1995; Wakman, 2002)

2. Penyakit Karat Daun
Daerah sebaran
:
Diseluruh dunia termasuk di semua wilayah Indonesia.
Tanaman inangnya
:
Jagung, Teosinte, Tripsacum sp dan Erianthus sp
Gejalanya
:
Terjadinya bisul-bisul atau benjolan-benjolan uredia atau telia pada kedua permukaan helaian daun jagung bagian bawah dan atas, berwarna coklat kemerahan. Daun yang terserang berat akan mengering.
Penyebabnya
:
Tiga spesies penyebab penyakit karat pada jagung ; dua spesies dari genus Puccinia yaitu P. polysora dan P. sorghi, dan satu spesies dari genus Physopella yaitu P. zeae. Cendawan ini mempunyai dua jenis spora yaitu uredospora yang dihasilkan didalam uredium, dan teliospora yang di produksi di dalam telium. Uredospora bersel tunggal dan permukaannya berbulu halus, sedangkan teliospora bersel dua dan kulit luarnya tidak berbulu.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian untuk PHT meliputi :
1) Varietas tahan karat : Arjuna, Kalingga, Wiyasa, Pioneer-2, 2) Sanitasi kebun dari gulma inang, 3) Fungisida mancozeb (Dithane M45), triadomefon atau dithiokarbonat. (Sumartini dan Hardaningsih, 1995; Sudjono, 1988)
3. Penyakit Bercak/Hawar Daun
Daerah sebaran
:
Penyakit ini tersebar luas di dunia
Tanaman inangnya
:
Jagung, sorgum, “sudangrass”, johnsongrass, gama grass dan teosinte.
Gejalanya
:
1) Bercak pada daun di sebabkan oleh Helminthosporium maydis, 2) Hawar pada daun di sebabkan oleh Helminthosporium turcicum, 3) Bercak atau hawar dapat juga terjadi pada tongkol dan pelepah.
Penyebabnya
:
1) Helminthoporium maydis Nisik. (Syn. Bipolaris maydis (Nisik) Shoemaker, Drechslera maydis (Nisik) Subram dan Jain) Stadia Perfectnya Cochliobolus heterostrophus (Drechs) Drechs, 2) Helminthosporium turcicum Pass. (Syn. Exserohilum turcicum (Pass) Leonard dan Suggs. Bipolaris turcica (Pass) Shoemaker; Drechslera turcica (Pass) Subram dan Jain) Stadia perfectnya Trichometasphaeria turcica Luttrell (Syn. Setospharia turcica (Luttrell) Leonard dan Suggs) Spora (konidia) memanjang, sedikit membengkok,bersekat tiga sampai delapan. Tangkai konidia bersekat dua sampai empat.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian terpadu meliputi :
1) Varietas tahan : Banyak varietas jagung unggul yang telah dilepas tahan penyakit bercak daun  H. maydis (Syuryawali et al 2000). Sedangkan varietas/galur jagung yang tahan hawar daun H. turcicum di dataran tinggi yaitu Pioneer-8, IPB-4, C-10, NK-11, FPC-9923, Exp.9702, Exp.9703, Kenia-1, Kenia-2, Kenia-3, dan Trop-Late White (Wakman, 2004a), 2) Sanitasi sisa tanaman, 3) Aplikasi fungisida hanya untuk produksi benih, karena penyakit ini dapat tersebar melalui biji yang terinfeksi (Sumartini dan Hardaningsih, 1995; Sudjono, 1988).
4. Penyakit Hawar Upih Daun
Daerah sebaran
:
Tersebar diseluruh dunia
Tanaman inangnya
:
Banyak jenis tanaman. Cynodon dactylon banyak terserang hawar upih di musim hujan di Sulawesi Selatan.
Gejalanya
:
Bercak melebar (hawar) pada pelepah dan juga pada daun. Adanya Sclerotia berbentuk butiran berwarna putih sewaktu muda dan berubah warna menjadi kecoklatan setelah tua menempel pada permukaan pelepah/daun yang terinfeksi, umumya menyerang pada musim hujan.
Penyebabnya
:
Cendawan Rhizoctonia solani Kuhn. Cendawan tidak membentuk spora, hanya membentuk Sclerotia.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian terpadu meliputi : 1) Varietas tahan, 2) Sanitasi kebun, 3) Jarak tanam jangan terlalu rapat, 4) Hindari menggunakan pupuk kandang berlebihan, 5) Cendawan antagonis Trichoderma viride dan T. harzianum (Sumartini dan Sri Hardiningsih, 1995).

4a. Penyakit Bercak Daun Kelabu
Daerah sebaran
:
Tersebar luas di seluruh dunia, meliputi benua Afrika, Amerika, Asia, dan Eropa. Di Asia dilaporkan dari Negara China, India, Philipina, dan Indonesia. Di Indonesia dilaporkan di dataran tinggi Sumatera Utara.
Tanaman inangnya
:
Jagung, sorgum, rumput johnson, rumput barnyard.
Gejalanya
:
Gejala mulai muncul pada stadia generatif berupa bercak sempit memanjang sampai 5 cm, dengan lebar 2 mm, dibatasi oleh dua tulang daun. Warna bercak mulai dari kuning kehijauan, berubah menjadi kelabu apabila keluar tangkai konidia dan konidianya. Pada serangan berat, antara bercak satu dan lainnya bergabung, menyebabkan daun mengering.
Penyebabnya
:
Cercospora zeae maydis Tehon. & Daniels, Cercospora sorghi maydis Ell. & Ev.
Pengendalian
:
Satu-satunya pengendalian yang bisa dilakukan yaitu dengan varietas tahan/toleran seperti : Kenia-2, Kenia-3, Pioneer-8, Pioneer-20, NK-11, NK-22, NK-33, NK-55, NK-77, BC-2, IPB-4, FPC-9923 (Shurtleff, 1980; Wakman, 2004b).
5. Penyakit Busuk Batang/Tongkol
Daerah sebaran
:
Tersebar diseluruh dunia
Tanaman inangnya
:
jagung, sorgum, gandum, oats, barley, kapas, kedelai, dll.
Gejalanya
:
1) Pangkal batang busuk sehingga bagian atas layu dan  mengering, 2) Tongkol yang terserang menjadi busuk sebagian atau  seluruhnya.
Penyebabnya
:
Beberapa penyebab busuk batang/tongkol pada jagung yaitu : 1) Fusarium spp, Colletotrichum sp, Diplodia sp, Macrophomina sp, 2) Pythium sp, Cephalosporium sp dan bakteri Erwinia sp.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian untuk PHT : 1) Varietas tahan, benih sehat, 2) Pergiliran tanaman, 3) Pemupukan berimbang, 4) Drainase yang baik di musim hujan, 5) Populasi tanaman jangan rapat, 6) Hindari penanaman pada musim hujan, 7) Biopestisida, 8)Fungisida efektif (Shurtleff, 1980, Sumartini dan Hardaningsih, 1995; Sudjono, 1988).
6. Penyakit biji
Daerah sebaran
:
Tersebar luas diseluruh dunia
Tanaman inangnya
:
Jagung, sorgum, gandum,  jewawut dan biji rumput-rumputan lain.
Gejalanya
:
Biji busuk berwarna hitam, coklat hijau, kuning, putih,  abu-abu, dll. tergantung patogennya.
Penyebabnya
:
Cendawan Aspergillus spp., Fusarium spp.,
Diplodia spp., Helminthosporium, Bothryos-phaeria sp., Cladosporium sp., Rhizoctonia sp., Rhizopus sp., Colletotrichum sp., Trichoderma sp.
Pengendalian
:
Komponen pengendalian terpadu meliputi : 1) Varietas tahan, 2) Panen tepat waktu, 3) Pengeringan yang baik, kelembaban rendah, suhu 4-10°C, 4) Aplikasi asam organik : propionic, isobutyric, acetic dan campurannya dengan ammonium isobutyrate, 5) Penyimpanan biji yang baik, kadar air dibawah 15% (Shurtleff, 1980; Sudjono, 1988).
7. Penyakit Virus Mozaik
Daerah sebaran
:
Tersebar diseluruh dunia  : Afrika, Amerika, Asia, dan Australia. Di Indonesia di laporkan ada di Jawa dan Sulawesi.
Tanaman inangnya
:
Jagung, sorgun, dan banyak jeni rumputan  lain.
Gejalanya
:
Mozaik pada daun, adanya perubahan warna daun yang menjadi hijau muda di antara hijau tua normal. Serangannya sistimik.
Penyebabnya
:
1) Virus mosaik tebu, 2) Virus mosaik kerdil jagung, 3) Virus mosaik ketimun
Pengendalian
:
Komponen pengendalian PHT meliputi  : 1) Varietas tahan, 2) Aplikasi insektisida untuk serangga vektor dengan monokrotofos, tamaron, atau thiodan, 3) Pergiliran tanaman, 4)
Sanitasi gulma inang (Saleh et al., 1989; Semangun, 1993; Sumartini dan Hardaningsih, 1995; Wakman et al., 2001).


DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1995. Pengenalan hama dan penyakit tanaman jagung serta pengendaliannya. Monograf Balittan Malang No.13:1-14.
Anonymous. 1989. Pengenalan Penyakit Penting pada Tanaman Padi dan Palawija dan Cara Pengendaliannya. Direktorat perlindungan Tanaman Pangan, Jakarta. 138 hal.
Flint, M.L. and R. van den Bosch. 1990. Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Penerbit Kanisius. Pp.144.
Oka, I.N. 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press. 255 hal.
Ortega, C.A. 1987. Insect pests of maize. A Guide for Field Identification. CIMMYT Mexico. Pp.106.
Pabbage, M.S. 2003. Potensi pemanfaatan parasitoid telur Trichogramma evanescens Westwood dalam pengendalian hama penggerek batang jagung, Ostrinia furnacalis Guenee. Makalah Seminar Jatidiri persyaratan kenaikan pangkat IVb ke IVc. Balitsereal. Jumat 5 Desember. 19 hal.
Painter, R.H. 1951. Insect Resistan in Crop Plants. The Mac Millan Company. New York. Pp.520.
Saleh, N., Y. Baliadi dan A.A. Cook. 1989. Identifikasi virus mosaik kerdil jagung pada tanaman jagung di Indonesia. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor:127-129.
Saleh, K.M. 1993.  The use of resistant varieties and insecticide applications in controlling insect pests and the effects of resistant varieties on parasitoid development. Proceeding of the Symposium on Integrated Pest Management Control Component. Biotrop Special Publication No.50:157-165.
Semangun, H. 1993.  Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 449 hal.
Shurtleff, M.C. 1980. Compendium of Corn Diseases. Second Edition. The American Phythological Society. USA. Pp.105.
Sudjono, M.S. 1988. Penyakit Jagung dan Pengendaliannya. Dalam Subandi, M. Syam, dan A. Widjono. 1988. Jagung. Puslitbangtan Bogor. Hal.205-241.
Sumartini dan Srihardaningsih. 1995. Penyakit-Penyakit Jagung dan Pengendaliannya. Dalam Pengenalan Hama dan Penyakit Tanaman Jagung serta Pengendaliannya. Monograf Balittan Malang No. 13:1-14.
Tandiabang, Y. 2000. Pengelolaan hama utama tanaman jagung. Prosiding Aplikasi Paket Teknologi pertanian Sulawesi Tengah. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Jakarta : 16 hal.
Wakman, W., M.M. Dahlan, dan M.S. Kontong. 1999.  Varietas jagung unggul nasional tahan penyakit bulai di akhir abad ke-20. Makalah disajikan pada Seminar Tahunan Perhimpunan PFI, PEI dan HPTI Komisariat Sulawesi Selatan di UNHAS, 8 hal.
Wakman, W. 2000. Downy mildew disease of maize in Indonesia : Problem, Research, and solving. Paper presented at the International Congress and Symposium  on Southeast Asian Agricultural Sciences (IC-SAAS). Bogor Agricultural University. 6-8 November 2000. 9 pages.
Wakman, W., M.S. Kontong, A. Muis, D.M. Persley, and D.S. Teakle. 2001. Mosaic disease of maize caused by sugarcane mosaic potyvirus in Sulawesi. Indonesian Journal of Agricultural Science. 2(2):56-59.
Wakman, W. 2002. Penyakit utama tanaman jagung di Indonesia. Makalah disajikan pada Seminar Expose Palawija di BPTP Lampung 16-18 Oktober 2002, 12 hal.
Wakman, W. dan H.A. Djatmiko. 2002. Sepuluh spesies cendawan penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung. Makalah disajikan pada Seminar PFI di Purwokerto 7 September 2002. 10 hal.
Wakman, W. dan Hasanuddin. 2003. Penyakit bulai (Peronosclerospora sorghi) pada jagung di dataran tinggi Karo Sumatera Utara. 10 hal. (Belum dipublikasikan).
Wakman, W. 2004a. Varietas jagung tahan penyakit hawar daun di dataran tinggi. Seminar Mingguan Balitsereal. Jumat 30 April : 4 hal.
Wakman, W. 2004b. Bercak daun kelabu, penyakit utama kedua pada jagung di dataran tinggi. Seminar Mingguan Balitsereal. 4 hal



Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

Read more: http://blogkomputer12.blogspot.com/2012/06/tips-memasang-widget-untuk-mempercantik.html#ixzz2CsoLdPTs

Blogger news

Column 1

Musik

Pages

Popular Posts