-=[ Klick Go To My Homepage ]=-














!!Catatan Si Hitam!!
!!http://cekouff.blogspot.com/!!
0

MAKALAH AQIDAH DAN KOMPONEN-KOMPONENNYA

Minggu, 26 Januari 2014
Share this Article on :


Alhamdulillah dengan taufiq dan inayah dari Allah SWT, makalah tentang Aqidah Islamiyah ini dapat disusun dan disajikan sebagai tugas dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam, dan sebagai bahan diskusi dengan harapan semoga materi ini menjadi pegangan ajaran tauhid atau keimanan kita, yang selama ini secara tidak terasa keliru karena bercampur baur dengan ajaran-ajaran non Islam, ataupun tradisi dari peninggalan nenek moyang kita, sehingga tidak dapat lagi membedakan mana yang benar dan mana pula yang salah.
Sebagai bukti nyata dari kekeliruan ini, timbullah suatu semboyan “semua agama adalah sama dan baik”. Hilanglah ajaran agama yang asli yang datangnya dari Sang Khaliq (Allah SWT), karena telah diubah oleh tangan-tangan jahil manusia dan diprakarsai oleh hawa nafsu yang sesat. Beruntunglah mereka yang sadar dan mau menganalisa, meneliti, membina dan memantapkan Aqidah Islamiyah atau keimanannya, dengan berlandaskan kepada Al-Quran dan Hadits serta mau mempergunakan ratio yang sehat.
Mudah-mudahan dengan seizin Allah SWT, makalah ini dapat menyumbangkan jasanya untuk membina dan memantapkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT.
Akhirnya harapan penyusun kepada para pembaca, kiranya tidak jemu-jemu memberikan koreksi dan kritik untuk memperbaiki materi ini. Sebab kekurangan sudah barang tentu selalu terdapat pada insan yang dhaif.
Untuk itu, penyusun akan menunggu dan menerima dengan segala senang hati, diiringi ucapan ribuan terima kasih. Semoga Allah SWT jugalah yang akan memberi imbalan pahala yang tidak terhingga kepada segenap pihak yang suka membantu untuk mencari kebenaran dalam ajaran agama yang diridhaiNya. Amin.
Mataram, 15 November 2006



Penyusun
(Kelompok 6)


BAB I

Nilai suatu ilmu ditentukan oleh kandungan ilmu tersebut. Semakin besar nilai manfaatnya, semakin penting ilmu tersebut untuk dipelajari. Ilmu yang paling utama adalah ilmu yang mengenalkan kita kepada Allah SWT, Sang Pencipta. Sehingga orang yang tidak kenal Allah SWT adalah orang yang bodoh, karena tidak ada orang yang lebih bodoh dari pada orang yang tidak mengenal penciptanya.
Allah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya dan selengkap-lengkapnya bentuk dibanding dengan makhluk/ciptaan yang lain. Kemudian Allah bimbing mereka dengan mengutus para Rasul-Nya (menurut hadits yang disampaikan Abu Dzar bahwa jumlah para Nabi sebanyak 124.000 orang, namun jumlah yang sebenarnya hanya Allah saja yang mengetahuinya), semuanya menyerukan kepada tauhid (diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam At Tarikhul Kabir 5/447 dan Ahmad dalam Al Musnad 5/178-179). Sementara dari jalan sahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul 313 (diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Maurid 2085 dan Ath-Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir 8/139) agar mereka berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta melalui wahyu yang dibawa oleh Sang Rasul. Orang yang menerima disebut mukmin, orang yang menolaknya disebut kafir serta orang yang ragu-ragu disebut munafik yang merupakan bagian dari kekafiran.
Begitu pentingnya aqidah ini, sehingga Nabi Muhammad Saw, penutup para Nabi dan Rasul membimbing umatnya selama 13 tahun ketika berada di Makkah dengan menekankan masalah aqidah ini, karena aqidah adalah landasan semua tindakan, bahkan merupakan landasan bangunan Islam. Oleh karena itu, maka para dai dan para pelurus agama dalam setiap masa selalu memulai dakwah mereka dengan tauhid dan pelurusan aqidah sebelum mereka mengajak kepada perintah-perintah agama yang lain. Bahkan para Nabi dan Rasul sebelum Rasulullah juga menyerukan hal yang sama dalam dakwah-dakwah mereka kepada umatnya. Hal ini seperti firman Allah dalam Al Quran surat An Nahl ayat 36 dan surat Al A'raaf ayat 59, 65, 73 dan 85:
وَلَقَدْبَعَثْـنَافِى كُـلِّ أُمَّةٍ رَّسُـولاًأَنِ اعْبُدُوااللَّهَ وَاخْتَـنِبُواالطَّـٰغُوتَۖ (النحل : ٣٦)
Artinya    :  “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[1] itu’,…” (QS. An Nahl: 36)
يَٰـقـَوْمِ اعْبُدُوااللـَّهَ مَالـَكـُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ (الأعراف : ٥٩٫٦٥٫٧٣٫٨٥)
Artinya    :  “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS. Al A'raaf: 59, 65, 73, 85)
Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. ‘Aqd berarti juga janji, ikatan (kesepakatan) antara dua orang yang mengadakan perjanjian. Aqidah secara definisi adalah suatu keyakinan yang mengikat hati manusia dari segala keraguan. Aqidah dalam istilah umum yaitu keimanan yang mantap dan hukum yang tegas, yang tidak dicampur keragu-raguan terhadap orang yang mengimaninya. Ini adalah aqidah secara umum, tanpa memandang aqidah tersebut benar atau salah. Aqidah secara terminology adalah sesuatu yang mengharuskan hati membenarkannya, membuat jiwa tenang, dan menjadi kepercayaan yang bersih dari kebimbangan dan keraguan. Aqidah menurut syara’ berarti iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan kepada Hari Akhir, serta kepada qadar dan qadha, baik takdir yang baik maupun yang buruk.
Aqidah tersebut dalam tubuh manusia ibarat kepalanya. Maka apabila suatu umat sudah rusak, bagian yang harus direhabilitasi adalah aqidahnya terlebih dahulu. Di sinilah pentingnya aqidah ini, apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akhirat. Aqidah merupakan kunci kita menuju surga. Aqidah juga menjadi dasar dari seluruh hukum-hukum agama yang berada di atasnya. Aqidah Islam adalah tauhid, yaitu mengesakan Tuhan yang diungkapkan dalam syahadat pertama. Sebagai dasar, tauhid memiliki implikasi terhadap seluruh aspek kehidupan keagamaan seorang Muslim, baik ideologi, politik, sosial, budaya, pendidikan dan sebagainya.
Aqidah sebagai dasar utama ajaran Islam bersumber pada Al Quran dan sunnah Rasul. Aqidah Islam mengikat seorang Muslim sehingga ia terikat dengan segala aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu, menjadi seorang Muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam, seluruh hidupnya didasarkan kepada ajaran Islam.  Hal ini seperti yang tersebut dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 208, yang berbunyi:
يٰآيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَـنُوْاادْخُلُوْافِى السِّـلْمِ كَآفَّـةًوَلاَتَتَّبِعُوْاخُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ اِنَّهُ لَكُمْ عُدُوٌّمُّبِيْنٌ (البقرة : ٢٠٨)
Artinya    :  “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Dalam penulisan makalah ini, penyusun merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.       Apakah definisi iman dan hubungannya dengan Islam serta sasaran pembahasannya?
2.       Apakah maksud dari beriman kepada Allah SWT,  dan apa hikmah dalam mengimaninya?
3.       Apakah maksud dari beriman kepada Malaikat Allah, dan hikmah dalam mengimaninya?
4.       Apakah maksud dari beriman kepada Kitab-kitab Allah, dan hikmah dalam mengimaninya?
5.       Apakah maksud dari beriman kepada Nabi dan Rasul Allah, dan hikmah dalam mengimaninya?
6.       Apakah maksud dari beriman kepada Hari Kiamat, dan hikmah dalam mengimaninya?
7.       Apakah maksud dari beriman kepada Takdir Allah, dan hikmah dalam mengimaninya?
8.       Bagaimanakah perkembangan aqidah Islamiyah?
9.       Bagaimana bahaya penyimpangan aqidah?
10.   Bagaimana cara menanggulangi penyimpangan terhadap penyimpangan aqidah?
11.   Apakah keistimewaan aqidah Islamiyah?
12.   Apakah manfaat mempelajari aqidah Islamiyah?
13.   Apakah wasiat aqidah dari salah satu imam besar Islam?

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.       Sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi amm (STIEamm) Mataram, semester I tahun ajaran 2006/2007.
2.       Sebagai kepedulian penyusun atas pentingnya memahami aqidah Islamiyah secara benar.
3.       Sebagai rasa keprihatinan penyusun atas banyaknya penyimpangan aqidah Islamiyah yang ada saat ini.


BAB II

Menurut pengertian bahasa iman adalah percaya atau membenarkan. Menurut pengertian syariat (tauhid) iman adalah kepercayaan atau keyakinan yang datang dari hati sanubari, diikrarkan dengan lisan, kemudian dibuktikan dengan perbuatan amal saleh, oleh anggota badan.
Jadi iman adalah pekerjaan yang berhubungan dengan perbuatan batin (hati) yaitu percaya kepada adanya Allah SWT, para malaikat, para Rasul Allah, kitab-kitab Allah, akan terjadinya hari kiamat dan percaya kepada takdir, sifatnya abstrak (tersembunyi).
Islam adalah pekerjaan yang berhubungan dengan perbuatan lahir yaitu mengucap syahadat, mengerjakan shalat, zakat, puasa, haji, sifatnya konkrit (nyata).
Kalau kita perhatikan pengertian antara iman dan Islam, maka jelas keduanya tidak dapat dipisahkan dengan arti kata setiap orang Islam wajiblah beriman dan orang yang beriman wajiblah dia Islam artinya menyerah diri, agar mendapat keselamatan fiddun ya wal akhirat.
Ditinjau dari segi pengertian bahasa, maka di antara iman dan Islam seolah-olah ada perbedaannya, artinya iman dan Islam mempunyai operasional berlainan. Yang satu abstrak, yang satu lagi konkrit. Tapi dalam segi praktis, iman dan Islam tidak dapat dipisahkan, karena sangat erat hubungannya ibarat pohon dengan buahnya. Dengan kata lain, aqidah dan syariat harus sejalan dan seirama, kalau tidak maka kehidupan ini akan pincang. Firman Allah SWT dalam menggambarkan dua hal tersebut antara lain:

وَبَشِّرِالَّذِيْنَآمَنُواوَعَمِلُواالصّٰلِحٰتِأَنَّلَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَااﻷنْهٰرُ (البقره : ٢٥)
Artinya    :  “Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (berbuat yang baik), bahwasanya mereka itu akan memperoleh surga di bawahnya mengalirlah beberapa sungai.” (QS. Al Baqarah: 25)
مَنْ عَمِلَ صٰلِحًامِنْ ذَكَرٍأَوْأُنْثٰى وَهُوَمُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيٰوةًطَيِّبَةًۚوَلَنَجْزِيَنَّهُمْ  أَجْرَهُمْ بِأْحْسَنِ مَاكَانُوْايَعْمَلُوْنَ (النحل : ٩٧)
Artinya    :  “Barang siapa beramal shaleh, baik ia lelaki ataupun perempuan dan ia seorang yang beriman, maka pastilah Kami akan memberinya kehidupan yang baik[2] dan pasti Kami memberi balasan dengan pahalanya, menurut yang telah dia kerjakan dengan sebaik-baiknya.” (QS. An Nahl: 97)
Adapun seperti yang sudah dikemukakan dalam bab sebelumnya,  bahwa sasaran materi dalam makalah ini salah satunya adalah masalah keimanan, maka sebenarnya masalah keimanan secara garis besar juga tercantum dalam hadits Rasulullah Saw:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللّٰهِ وَمَلاَٮِٔكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِوَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِخَيْرِهِ وَشَرِّهِ (رواه مسلم)
Artinya    :  “.... (Iman ialah): kamu harus percaya kepada Allah SWT, kepada para malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para utusan-Nya, kepada hari akhir dan percaya pula kepada qadar (kepastian) baik maupun buruk .....” (HR. Muslim)

Prof. Dr. C.C. Yung, seorang ahli psikologi (non Muslim) yang pernah mendapat hadiah nobel tahun 1948, mengatakan bahwa: “Dalam jiwa manusia itu ada fungsi percaya kepada Tuhan”[3]. Sayangnya manusia kurang mampu untuk menetapkan siapa dan bagaimana Tuhan itu sebenarnya, sehingga timbul agama buatan manusia (agama ardliyah/agama budaya). Rasulullah Saw bersabda:
دِيْنُ الْمَرْءِعَقْلُهُ وَمَنْ لاَعَقْلَ لَهُ لاَدِيْنَ لَهُ (رواه أبوشيح ابن حبان)
Artinya    :  “Agama seseorang ialah akalnya; dan barang siapa tidak ada akal (berarti) tak pula ia mempunyai agama.” (HR. Abu Syekh ibnu Hiban)
Islam tidak mengenal “credoquia absurdum” (saya percaya sekalipun tidak masuk akal)[4]. Sebab Al Quran melarang hal tersebut, seperti dalam firman Allah dalam surat Al Isra' ayat 36:
وَلاَتَقْفُ مَالَيْسَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَوَالْفُؤَادَكُلُّ أُولٰٓـٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُوْلاً (الإسر : ٣٦)
Artinya    :  “Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya nanti akan ditanya.” (QS. Al Isra': 36)
Oleh karena itu kita harus menggunakan akal kita pada tempatnya. Orang yang tidak menggunakan akalnya, dalam suatu tugas yang amat penting, yaitu memilih agama sebagai pegangan hidup, oleh Allah SWT disejajarkan dengan hewan, bahkan lebih jelek dari pada hewan.  Hal ini seperti firman Allah SWT dalam Al Quran surat Al A’raaf ayat 179:
لَهُمْ قُلُوْبٌ لاَّيَفْقَهُونَ بِهَاوَلَهُمْ أعْيُنٌ لاَّيُبْصِرُوْنَ بِهَاوَلَهُمْ آذَانٌ لاَّيَسْمَعُوُنَ بِهَآأولٰٓـٕكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمُ اغٰفِلُونَ (الأعراف : ١٧٩)
Artinya    :  “Mereka mempunyai hati (akal), tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami, mempunyai mata, tetapi tidak mempergunakannya untuk melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak mempergunakannya untuk mendengar, orang-orang itu seperti hewan bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A'raaf: 179)
Agama adalah keyakinan, yang seharusnya jika kita ingin menganutnya, kita harus meneliti terlebih dahulu, menganalisa kebenarannya, mempelajari secara kritis ajaran-ajarannya, sehingga agama yang kita anut itu betul-betul dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya di hadapan Allah SWT dan sesuai pula dengan fitrah. Janganlah kita memilih agama karena kita mengikuti tren, sekedar ikut-ikutan. Bahkan meskipun agama yang kita anut adalah agama yang berasal dari orang tua kita, maka sudah seharusnya kita juga harus benar-benar mengerti akan kebenaran agama yang kita anut tersebut. Janganlah agama hanya kita jadikan identitas.
Adapun syarat mutlak dari pengakuan itu haruslah diucapkan dengan secara sadar, dan penuh dengan keinsyafan, yakni dengan membaca dua kalimat syahadat. Dua kalimat sebagai ikrar atau pengakuan, yang tersusun dari:
1.       Pengakuan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, disebut dengan syahadat tauhid:
أَشْهَدُأَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang patut untuk disembah) melainkan Allah”
2.       Pengakuan Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah, disebut dengan syahadat Rasul:
وَأَشْهَدُأَنَّ مُحَمَّدًارَسُوْلُ اللَّهِ
“Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”
Dalam Al Quran syahadatain ini terkenal dengan nama “Kalimat Tayyibatun”, yaitu kalimat yang baik, tinggi nilainya, karena mengandung (berfungsi) untuk membawa kebahagiaan hidup umat manusia, baik dunia maupun akhirat. Oleh karena itu setiap orang yang mengamalkan ajaran syahadatain tersebut, maka orang itu berhak untuk menempati surga. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:
مَنْ كَانَ آجِرَكَلاَمِهِ لاَإلٰهَ إلاَّاللَّهُ دَجَلَ الْجَنَّةَ (رواه أبوداود)
Artinya    :  “Barang siapa yang akhir ucapannya (waktu akan mati mengatakan): laa ilaaha illallaah, (maka) ia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud).
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa orang yang mampu untuk mengucapkan kalimat syahadatain di akhir masa hidupnya, hanyalah orang-orang yang semasa hidupnya selalu mengingat kepada Allah SWT dan mengamalkan segala perintah-perintah-Nya. Dan orang tersebut dimasukkan dalam kategori (golongan) orang-orang yang meninggal dengan derajat “Husnul Khatimah” (hidupnya berakhir dalam keadaan baik).

Banyak jalan yang dapat digunakan untuk membuktikan adanya Allah SWT. Dalam hal ini sangat mudah, asalkan kita mau mempergunakan akal dan pikiran kita, yaitu dengan memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan-nya, antara lain:
وَفِى الأرْضِ آيٰتٌ لِلْمُوْقِنِيْنَ۝وَفِىْٓ أنْفُسِكُمْ أفَلاَتُبْصِرُوْنَ۝(الذاريات : ٢٠-٢١)
Artinya    :  “Dan di bumi ini terdapatlah tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikannya.” (QS. Adz Dzariyat: 20-21)
إنَّ فِىْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَــارِلآيٰتٍ لأُولِى الألْبَبِ (آل عمران : ١٩٠)
Artinya    :  “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (bukti kekuasaan Allah) bagi orang yang (mau) menggunakan akalnya.” (QS. Ali Imran: 190)
تَفَكَّرُوْافِى الْخَلْقِ وَلاَتَفَكَّرُوْافِى الْخَالِقِ فَإنَّكُمْ لاَتَقْدِرُوْنَ قَدْرَهُ (رواه أبوشيخ)
Artinya    :  “Pikirkanlah olehmu tentang makhluk Tuhan, dan janganlah kamu pikirkan tentang zat Khaliq (Allah), karena kamu pasti tidak akan dapat menjangkau-Nya (tidak mungkin manusia untuk memikirkan zat Allah SWT.)” (HR. Abu Syekh)

Beberapa ahli tasawwuf juga mengatakan:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْعَرَفَ رَبَّهُ
Artinya    :  “Barang siapa yang mengenal akan dirinya, niscaya kenallah ia akan Tuhannya.”
Hal ini bukanlah berarti Allah SWT itu bersemayam (berada) dalam diri kita, sebagaimana beberapa orang mempercayai hal tersebut (manunggaling kawula gusti), tetapi hal ini berarti bahwa kita menyadari betapa indah dan harmonisnya susunan tubuh kita, sehingga dapat bekerja praktis, menurut fungsinya masing-masing. Terutama dalam soal pengendalian roh. Hal-hal yang seperti inilah yang menyadarkan kita akan adanya Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengatur, dan Dia adalah Allah SWT. Kemudian kalau kita memperhatikan alam yang ada di sekitar kita, betapa indah alam tersebut, begitu teraturnya alam berjalan, maka dari situ kita bisa mengambil jalan untuk lebih mengenal Allah SWT.
Sebagai contoh, Imam Hambali (yang hidup antara tahun 164 H-241H/ 855 M-1055 M), beliau membuktikan adanya zat Yang Maha Kuasa dengan kejadian makhluk-makhluk, terutama manusia, yang asalnya dari sperma dan ovum, akhirnya setelah mengalami proses yang ditentukan, maka jadilah ia manusia yang sempurna. Sir Isaac Newton, merasakan bahwa ilmu yang ada padanya adalah sekedar hasil penemuan tentang segala apa yang telah tersedia di alam ini. Ilmu dan kepintaran manusia tidak sanggup untuk menciptakan sesuatu yang belum ada sebelumnya. Ketinggian ilmu dan penemuan para ahli hanyalah mengolah dan merubah bentuk, lebih dari itu tidak dapat berbuat apa-apa. Disinilah Newton membuktikan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT sebagai Pencipta alam semesta. Ilmu telah membawa akal kita untuk melihat kebesaran Allah SWT dengan apa yang tidak dapat terlihat oleh mata manusia.
Meskipun ada banyak pengakuan dari ilmuwan non Muslim, tapi hal tersebut hanyalah sekedar pengakuan mereka saja, tetapi mereka tetap mempersekutukan Allah dan tidak mau mengakui Islam sebagai agama yang benar. Walaupun ada hanya sebagian kecil saja. Kalau kita tinjau lebih jauh lagi, bahkan setan dan iblis juga percaya akan adanya Allah, tetapi cara ibadah dan kebaktian serta perbuatannya menyeleweng dari kehendak Allah SWT, bahkan secara terus terang di hadapan Allah, mereka tidak mau menuruti perintah Allah untuk menghormati Adam as.

Fakta-fakta yang membuktikan adanya Allah SWT, zat Yang Maha Kuasa, sudah cukup banyak diungkapkan, baik oleh masyarakat Muslim maupun non Muslim. Tetapi, jalan pikiran mereka untuk mengenal hakikat yang sebenarnya masih berbeda-beda menurut cara dan konsep mereka sendiri. Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi kita untuk mengetahui sifat-sifat Allah SWT, supaya jangan kita keliru untuk menentukan siapa dan bagaimana Allah Yang Maha Kuasa itu.
Allah SWT tidak menganjurkan kita untuk mengadakan penelitian, menganalisa, mengobservasi, atau mencari zat-Nya. Tapi kita diwajibkan hanya untuk mengenal sifat-sifat-Nya. Untuk itu dapat kita peroleh dengan dua cara, yaitu:
1.       Secara langsung dari Al Quran dan Al Hadits.
Cara ini hanya mempergunakan satu alternatif saja, yaitu semua keterangan diambil dari Al Quran dan Al Hadits yang shahih, inilah yang disebut dengan “Al Asmaul Husna”, (nama-nama yang baik), yang jumlahnya sebanyak 99, dengan perincian sebagai berikut:
a.        Zat Pribadi-Nya :  Al Waahid, Al Haq, Al Qudduus, Ash Shamad, Al Ghanii, Al Mughnii, Al Awwal, Al Aakhiry, Al Hayyi, Al Qayyuum, Al Ahad.
b.        Penciptaan-Nya  :  Al Khaaliq, Al Baariu, Al Mushawwir, Al Badii’u.
c.        Sifat-sifat-Nya  :   Ar Rahmaan, Ar Rahiim, Ar Rauuf, Al Waduud, Al Lathiif, At Tawwab, Al Haliim, Al Afuwwu, Al Ghaffar, Al Ghafuur, As Syakuur, As Salaam, Al Mukmin, Al Barr, Ar Raafi’, Ar Raazaq, Al Wahhaab, Al Waasi’
d.       Kebesaran/keagungan-Nya   :   Al ‘Azhiim, Al ‘Aziiz, Al ‘Aliyyu, Al Muta’aalii, Al Qawiyyu, Al Qahhaar, Al Jabbaar, Al Kabiir, Al Kariim, Al Hamiid, Al Majiid, Al Maajid, Al Matiin, Azh Zhaahir, Zul Jalaali wal Ikraam
e.        Ilmu Pengetahuan-Nya  :  Al ‘Aliim, Al Hakiim, As Samii’u, Al Khabiir, Al Bashiir, As Syahiid, Ar Raqiib, Al Baathin, Al Muhaimin
f.         Kekuasaan dan kepemimpinan-Nya  :  Al Qaadir, Al Muqtadir, Al Wakiil, Al Hafizh, Al Malik, Al Fattaah, Al Hasiib, Al Muntaqim, Al Muqiit.
g.        Kodrat-Nya :   Al Qaabidh, Al Baasith, Al Mu’izz, Al Mudzil, Al Mufiib, Al Baa’its, Al Muhshi, Al Mubdiu, Al Mu’iid, Al Muhyi, Al Mumiit, Malikul Muluk, Al Jaami’, Adh Dhaar, Al Maani’, Al Haadii, Al Baaqii, Al Waarits.
h.        Iradat-Nya :  An Nuur, Ash Shabuur, Ar Rasyiid, Al Muqsith, An Naafi’, Al Waali, Al Jaliil, Al Waliiyu, Al ‘Adlu, Al Khaafidh, Al Waajid, Al Muqaddim, Al Muakhir, Al Hakam, Al Mutakabbir.
2.       Secara gabungan, Al Quran dan pikiran (dalil naqliyah dan aqliyah).
Cara ini dirumuskan oleh tokoh dalam aliran ilmu tauhid, yaitu Abul Hassan Al ‘Asyari, yang disebut dengan aliran Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Beliau berpendapat, cara untuk mengenal sifat-sifat yang wajib[5] bagi Allah SWT itu ada dua macam:
a.        Secara ijmali (global), yaitu bahwa Allah SWT mempunyai segala macam sifat kesempurnaan, yang tidak dimiliki oleh makhluk-Nya. Jumlah sifat tersebut tidak terhingga banyaknya, tanpa batas.
b.        Secara tafshili (terperinci), yaitu bahwa yang disebut dengan sifat dua puluh atau lebih diringkaskan menjadi sifat tiga belas. Adapun tiga belas sifat Allah tersebut adalah sebagai berikut:
1)       Wujud
Wujud berarti bahwa Allah wajib bersifat ada, dan mustahil bagi Allah kalau Dia bersifat tidak ada (‘Adam). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Baqarah ayat 163:
لآإلٰهَ إلاَّهُوَ (البقرة : ١٦٣)
Artinya    :  “Tidak ada Tuhan, melainkan Dia (Allah).” (QS. Al Baqarah: 163)
Sedangkan dalil aqlinya, kita bisa mengambil contoh seperti suatu gedung, misalnya. Kita bisa melihat suatu gedung, tapi kita tidak pernah tahu siapa yang membuat gedung tersebut, tukang batu, tukang kayu, arsitek, pekerja bangunan, semua bisa saja merupakan bagian dari pembuat gedung tersebut, tapi kita tidak benar-benar tahu siapa sang pembuat gedung. Yang kita tahu, bahwa gedung tersebut bisa berdiri tegak, pasti ada yang membuatnya, tidak mungkin suatu gedung berdiri sendiri. Begitu juga dengan Allah. Kita bisa melihat diri kita, dan juga alam ini, begitu indah, begitu sempurna, begitu menakjubkan, yang kita semua tahu, tidak ada satupun manusia di bumi ini yang bisa meniru sama seperti yang kita lihat, dengan segala keunikannya. Meskipun begitu, semua keindahan itu tidak datang dengan sendirinya, pasti ada Yang Maha Kuasa yang ada di balik semua itu. Pasti ada yang menciptakan sebuah karya agung dari semua itu, dan itu adalah bukti adanya Allah, sang pencipta segala sesuatu. Bukti bahwa Allah itu ada, dan mustahil kalau tidak ada.
2)       Qidam
Qidam berarti bahwa Allah wajib bersifat dahulu, dan mustahil kalau Allah bersifat baru (Huduuts). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Hadid ayat 3:
هُوَالأوَّلُ وَالآخِرُ (الحديد : ٣)
Artinya    :  “Dialah yang awal dan yang akhir.” (QS. Al Hadid: 3)
Dalil aqli, bisa kita lihat dari contoh gedung di atas. Jika ada sebuah gedung yang berdiri di suatu tempat, tidak mungkin gedung tersebut berdiri di situ sebelum sang pembuatnya ada terlebih dahulu. Pastilah sang pembuat gedung tersebut ada terlebih dahulu untuk membuat gedung tersebut. Begitu juga Allah, sang pencipta semua makhluk yang ada di dunia ini, pastilah Dia terlebih dahulu ada jika dibandingkan dengan para makhluk-Nya yang dia ciptakan.
3)       Baqa’
Baqa’ berarti Allah wajib bersifat kekal, mustahil bagi Allah untuk bersifat hancur atau binasa (Fana’). Dalil naqli dari sifat Baqa’ adalah Al Quran surat Al Qashash ayat 88 dan Al Quran surat Ar Rahman ayat 26-27:
كُلُّ شَيْىٍ هَالِكٌ إلاَّوَحْهَهُ (القصص : ٨٨)
Artinya    :  “Tiap-tiap sesuatu akan binasa, kecuali Allah.” (QS. Al Qashash: 88)
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَافَانٍ۝وَيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلٰلِ وَالإكْرَامِ۝ (الرحمن : ٢٦-٢٧)
Artinya    :  “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan akan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar Rahman: 26-27)
Dalil aqli, Allah SWT bukanlah benda atau materi, oleh karena itu Dia tidak hancur, rusak ataupun mati. Kalau kiranya Allah itu bisa binasa, maka sudah pasti ada makhluk yang mampu untuk menghancurkannya. Dan itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya, karena tidak berdaya untuk menolak kebinasaan tersebut. Jadi jelas bahwa Allah Yang Maha Kuasa itu tetap kekal abadi, tanpa mengalami kehancuran dan kebinasaan.
4)       Mukhalafatuhu Lilhawaadits
Mukhalafatuhu Lilhawaadits berarti bahwa Allah wajib bersifat berbeda dengan makhluk-Nya, dan mustahil bagi Allah untuk serupa dengan makhluk-Nya (Mumatsalatuhu Lilhawaadits). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Asy Syuura ayat 11, dan Al Ikhlas ayat 4:
لَيْسَ كَمِشْلِهِ شَيْىءٌ (الشورى : ١١)
Artinya    :  “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy Syuura: 11)
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًاأحَدٌ (الإجلاص : ٤)
Artinya    :  “Dan tidak ada satu (siapapun) yang sama dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 4)
Dalil aqli, tidak mungkin jika kita sama dengan Allah maka kita akan menyembah Allah. Mengapa kita harus menyembah sesuatu yang tidak memiliki perbedaan (lebih) dengan kita? Sedangkan sesuatu tersebut bahkan sama dengan kita. Bahkan terkadang kita sebagai manusia, menjilat atasan kita, mencoba untuk mencari hati atasan kita, yang tentunya memiliki kelebihan dari pada kita, yang berbeda dengan kita, maka sudah pasti juga kita menyembah Allah karena Allah berbeda dengan kita, karena Allah Maha Kuasa, karena Allah jauh melebihi kita yang diciptakan-Nya.
5)       Qiyamuhu Binafsihi
Qiyamuhu Binafsihi berarti bahwa Allah wajib untuk bersifat berdiri sendiri, dan mustahil bagi Allah untuk meminta bantuan makhluk-Nya (Ihtiyaju Bighairihi). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Baqarah ayat 255 dan surat Al Fathir ayat 15:
اَللَّهُ لآإلٰهَ إلاَّهُوَالْحَيُّ الْقَيُّوْمُ (البقرة : ٢٥٥)
Artinya    :  “Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup dan berdiri sendiri (di dalam mengurus makhluk).” (QS. Al Baqarah: 255)
يَـٓأيُّهَاالنَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَآءُاِلىَ اللَّهِۚ وَاللَّهُ هُوَالْغَنِىُّ الْحَمِيْدُ (فاطر : ١٥)
Artinya    :  “Wahai sekalian manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” (QS. Faathir: 15)
Dalil aqli, jika kita meminta bantuan kepada orang lain, itu bisa berarti bahwa kita lemah, kita tidak menguasai hal yang kita mintakan pertolongan kepada orang lain. Jika Allah meminta pertolongan kepada manusia, maka itu berarti Allah itu lemah, sedangkan kita tahu bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jadi sudah pasti bahwa Allah itu berdiri sendiri, dan mustahil kalau Allah membutuhkan pertolongan orang lain.
6)       Wahdaniyah
Wahdaniyah berarti bahwa Allah wajib bersifat Maha Esa[6], dan mustahil jika Allah itu banyak atau berbilang (Ta’addud). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Ikhlas ayat 1-4 dan Al Baqarah ayat 163:
قُلْ هُوَاللَّهُ أحَدٌ۝اَللَّهُ الصَّمَدُ۝لَمْ يَلِدْوَلَمْ يُوْلَدْ۝وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًاأحَدٌ۝(الإجلاص : ١-٤)
Artinya    :  “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
وَإلٰهُكُمْ إلٰهٌوّٰحِدٌ (البقرة : ١٦٣)
Artinya    :  “Dan Tuhanmu itu Tuhan Yang Maha Esa (tunggal).” (QS. Al Baqarah: 163)
Dalil aqli, dalam sebuah negara selalu hanya ada satu presiden, karena jika ada lebih dari satu presiden, maka negara tersebut akan kacau, karena akan terjadi perebutan kekuasaan dalam menentukan jalannya pemerintahan. Begitu juga dengan alam ini, jika dari dulu sampai sekarang alam ini berjalan begitu rapi, begitu teratur, maka sudah pasti karena yang mengatur segalanya hanyalah satu, yaitu Allah. Jika ada lebih dari satu Tuhan, maka tentu akan terjadi kekacauan dalam mengatur alam ini, selain itu, jika ada lebih dari satu Tuhan, maka Tuhan yang satu akan merasa lebih dari Tuhan yang lain, sehingga Tuhan-Tuhan tersebut akan saling membutuhkan. Itu menunjukkan bahwa Tuhan itu lemah. Dan mustahil kalau Allah itu lemah, maka sudah pasti bahwa Allah itu hanya ada satu.
7)       Qudrat
Qudrat berarti bahwa Allah wajib bersifat Maha Kuasa, dan mustahil bagi Allah bersifat lemah (‘Ajzu). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Baqarah ayat 20:
إنَّ اللَّهَ عَلىٰ كُلِّ شَيْىءٍقَدِيْرٌ (البقرة : ٢٠)
Artinya    :  “Sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 20)
Dalil aqli, seperti yang sudah dipaparkan di atas, alam yang berjalan begitu teratur ini pastilah ada yang mengaturnya. Jika kita lihat, misalnya alat-alat transportasi modern, yang sudah dibuat sedemikian rupa, dengan dikendalikan oleh peralatan yang canggih, tapi terkadang masih terjadi tabrakan dan kecelakaan yang lain. Hal ini karena alat-alat tersebut dibuat dan diatur oleh manusia yang lemah. Maka jika Allah itu lemah, pastilah akan banyak terjadi tabrakan antar planet di alam ini, sehingga akan terjadi kekacauan di alam ini. Tapi Allah adalah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, maka Allah juga berkuasa untuk mengatur dan menjalankan alam ini sesuai dengan apa yang kita lihat sekarang ini. Jadi pastilah Allah itu bersifat Maha Kuasa.
8)       Iradat
Iradat berarti bahwa Allah wajib bersifat berkehendak, dan mustahil jika Allah itu bersifat terpaksa (Karahah). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Yaasiin ayat 82 dan surat Al Baqarah ayat 253:
إنَّمَآأمْرُهُ ٓإذَ ٓاأرَادَشَيْـاًأنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ (يٰسٓ : ٨٢)
Artinya    :  “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!”, maka terjadilah dia (sesuatu) yang dikehendaki-Nya itu.” (QS. Yaasiin: 82)
وَلٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَايُرِيْدُ (البقرة : ٢٥٣)
Artinya    :  “Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Baqarah: 253)
Dalil aqli, kita bisa melihat keberagaman akan makhluk-makhluk ciptaan Allah. Beberapa di antara kita ada yang cantik, ada yang ganteng, ada yang pintar, ada yang pandai, ada yang seksi, ada yang gagah, dan ada juga orang lain yang jelek, cacat, bodoh, dan sebagainya. Jika Tuhan itu bisa kita paksa, maka tentunya kita bisa meminta agar Tuhan itu membuat semuanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi Allah Maha Berkehendak, Dia bisa menciptakan makhluk yang dikehendaki oleh Allah sendiri.
9)       Ilmu
Ilmu berarti bahwa Allah wajib bersifat mengetahui, dan mustahil bagi Allah untuk bersifat bodoh (Jahlu). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Baqarah ayat 231:
وَاتَّقُوااللَّهَ وَاعْلَمُوْ ٓاأنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْىءٍعَلِيْمٌ (البقرة : ٢٣١)
Artinya    :  “Dan bertakwalah kepada Allah, serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 231)
Dalil aqli, seorang ilmuwan yang menciptakan sesuatu karya, pastilah dia mengetahui dengan benar segala apa yang dia ciptakan tersebut, bagaimana cara pengoperasiannya, apa yang harus dilakukan jika misalnya penemuannya tersebut mengalami masalah, dan lain sebagainya. Maka begitu juga Allah, Dia pastilah mengetahui tentang segala sesuatu yang ada di alam ini, karena alam ini adalah ciptaan-Nya.
10)    Hayat
Hayat berarti bahwa Allah wajib bersifat hidup, mustahil bagi Allah untuk bersifat mati (Maut). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Baqarah ayat 255:
اَللَّهُ لآإلٰهَ إلاَّهُوَالْحَىُّ الْقَيُّوْمُ (البقرة : ٢٥٥)
Artinya    :  “Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus.” (QS. Al Baqarah: 255)
Dalil aqli, seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa Allah itu bersifat ada, kekal dan berkuasa. Maka sudah pasti dengan sifat-sifat tersebut Allah juga bersifat hidup. Suatu hal yang tidak mungkin jika Allah itu kekal, tapi Allah tidak hidup atau mati. Maka tentunya Allah itu tidak kekal, seandainya Allah itu bisa mati. Jadi sudah jelas bahwa Allah itu bersifat hidup.
11)   Sama’
Sama’ berarti bahwa Allah wajib bersifat mendengar, dan mustahil bagi Allah untuk bersifat tuli (‘Ama). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Isra' ayat 1:
إنَّهُ هُوَالسَّمِعُ الْبَصِيْرُ (الإسرآء : ١)
Artinya    :  “Sesungguhnya Allah, Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. Al Isra': 1)
Dalil aqli, pada zaman sekarang ini kita sudah mengetahui tentang radio. Dengan radio, kita bisa mendengar berita, mendengar lagu, mendengar orang mengobrol dan sebagainya, bahkan meskipun kita tidak berada di tempat di mana orang itu berada. Begitu juga dengan teknologi telepon selular, kita bisa mendengar suara orang lain melalui suatu alat yang kecil, yang bahkan bisa kita masukkan ke dalam saku, tanpa kita harus melihat atau bahkan berada dalam satu ruang dengan orang tersebut. Jika sebagai manusia kita bisa menciptakan alat-alat yang seperti itu, maka sudah pasti pencipta manusia memiliki penglihatan yang melebihi dari apa yang diciptakan manusia. Oleh karena itu wajib bagi Allah untuk bersifat mendengar.
12)   Bashar
Bashar berarti bahwa Allah wajib bersifat melihat, dan mustahil bagi Allah untuk bersifat buta (Shamam). Dalil naqli dari sifat ini adalah Al Quran surat Al Hujurat ayat 18:
وَاللَّهُ بَصِيْرٌبِمَاتَعْمَلُوْنَ (الحجرات : ١٨)
Artinya    :  “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hujurat: 18)
Dalil aqli, dalam teknologi yang serba modern, kita bisa menyaksikan Piala Dunia bulan Juli kemarin lewat layar televisi, tanpa kita harus bersusah payah pergi ke Jerman. bahkan saat ini teknologi telepon selular sudah sedemikian majunya, dengan generasi ketiganya, kita bisa melakukan video conference. Kita bisa berbicara dengan teman atau saudara kita dan melihat mereka pada layar telepon kita. Atau juga mikroskop untuk melihat kuman, teleskop untuk melihat benda-benda langit, dan sebagainya. Alat-alat yang diciptakan oleh manusia tersebut sudah sedemikian canggih, tetapi tentunya pencipta manusia pasti lebih ‘canggih’ lagi. Sudah pasti bahwa Allah bisa melihat bahkan di tempat-tempat yang tersembunyi sekalipun. Jadi Allah wajib untuk memiliki sifat Maha Melihat.
13)   Kalam
Kalam berarti bahwa Allah wajib bersifat berfirman, berkata-kata, dan mustahil kalau Allah memiliki sifat bisu (Abkamu). Dalil naqli dari sifat tersebut adalah Al Quran surat An Nisa' ayat 164:
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوْسٰ تَكْلِيْمًا (النسآء : ١٦٤)
Artinya    :  “Dan Allah berfirman kepada Musa dengan firman-Nya secara langsung[7].” (QS. An Nisa': 164)
Dalil aqli, alam raya ini berjalan begitu teratur, pasti karena ada yang mengatur, memberi petunjuk dan pedoman kepada makhluk-Nya dengan firman-Nya. Begitu juga adanya agama-agama yang membawa kitab-kitab Allah, yang merupakan firman-firman Allah, pastilah Allah telah menyampaikan firman-Nya tersebut melalui perantaraan wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril. Jadi sudah pasti bahwa Allah itu bersifat kalam.
Sebenarnya, sifat-sifat Allah itu tidak hanya terbatas tiga belas sifat tersebut di atas saja, tetapi meliputi segala sifat-sifat kesempurnaan yang sesuai dengan kemuliaan Allah SWT itu sendiri. Sehingga diharapkan setelah kita mengetahui sifat-sifat Allah dan memahaminya, kita bisa terhindar dari dosa terbesar, yaitu syirik.
Dengan mengimani Allah SWT, maka diharapkan hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari kita. Setiap kita pasti akan merasa malu dan takut jika melakukan dosa jika kita mengetahui Allah dengan sifat-sifatnya yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, serta sifat-sifat yang lain. Dengan adanya iman kepada Allah, kita akan meyakini bahwa kita tidak bisa bersembunyi dari Allah. Maka bisa dikatakan, jika seorang manusia melakukan dosa, maka itu berarti iman sedang tidak berada dalam hatinya. Oleh karena itu, selama iman masih ada di hati, kita tidak akan melakukan perbuatan dosa.

Beriman kepada malaikat berarti kita percaya dengan sepenuhnya bahwa malaikat itu makhluk Allah SWT yang sangat taat untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya. Dia hanya dianugerahi akal, tanpa nafsu. Maka dia tidak banyak kehendak, dan tugasnya bersifat khusus dan tanpa henti. Perintah Allah untuk berfirman kepada para malaikat ini tercantum dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 285:
وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلٰـٓـٕكَتِهِ (البقرة : ٢٨٥)
Artinya    :  “Demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya.” (QS. Al Baqarah: 285)
Di antara sekian banyak malaikat, kita diwajibkan untuk mengetahui sepuluh dari mereka, dengan fungsi dan tugasnya masing-masing, yaitu:
1.       Malaikat Jibril, tugasnya adalah untuk menurunkan wahyu kepada para Nabi dan Rasul, selain itu juga memberikan ilham kepada waliyullah dan orang-orang yang shaleh.
2.       Malaikat Mikail, tugasnya adalah menurunkan segala macam nikmat, seperti memberikan rezeki, menurunkan hujan, memberikan ketentuan kelamin bayi yang berada di dalam kandungan ibu atas izin Allah SWT.
3.       Malaikat Israfil, tugasnya adalah menjaga Lauhul Maahfuz, meniup terompet dan membangkitkan semua manusia pada hari kiamat nanti.
4.       Malaikat Izrail, tugasnya adalah mengambil/mencabut nyawa setiap makhluk yang akan mati.
5.       Malaikat Munkar dan
6.       Malaikat Nakir, tugasnya untuk bertanya kepada orang-orang yang baru meninggal di dalam kuburnya.[8]
7.       Malaikat Rakib dan
8.       Malaikat 'Atit, tugasnya untuk mencatat segala perbuatan manusia. Malaikat Rakib mencatat perbuatan yang baik, sedangkan malaikat 'Atit mencatat perbuatan jelek, dosa.
9.       Malaikat Malik, tugasnya adalah menjaga neraka.
10.   Malaikat Ridwan, tugasnya adalah menjaga surga.
Penciptaan malaikat tersebut tidak kemudian berarti bahwa Allah SWT tidak kuasa dalam mengurusi segala ciptaan-Nya, tetapi semua itu mengandung beberapa hikmah, antara lain:
1.       Untuk membuktikan bahwa Allah Maha Kuasa untuk menciptakan makhluk yang bersifat ruhaniyah maupun jasmaniyah.
2.       Mendidik manusia sebagai khalifah di muka bumi ini agar dalam melaksanakan kepemimpinannya supaya membagi-bagi tugasnya kepada orang-orang yang ahli dalam bidangnya masing-masing, bahkan meskipun kita mampu untuk melaksanakannya.
3.       Karena manusia (dalam hal ini Nabi dan Rasul), tidak mampu untuk berhadapan dengan Nur Illahi.
Sedangkan tujuan kita diharuskan untuk beriman kepada malaikat adalah sebagai berikut:
1.       Supaya kita selalu berhati-hati dalam melakukan kegiatan kita sehari-hari, karena selain dilihat oleh Allah, ada malaikat yang akan mencatat dan menyaksikan setiap perbuatan yang kita lakukan.
2.       Untuk menambah keimanan kita bahwa Allah mampu untuk melakukan kehendak-Nya dalam menciptakan makhluk-makhluk-Nya.

Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT berarti kita harus meyakini bahwa Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada para Rasul-Nya untuk menjadikan pedoman hidup bagi umat manusia dari setiap perbuatan yang dilakukannya, baik itu perbuatan untuk dunia maupun akhirat. Kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah itu ada banyak sekali, meskipun begitu yang wajib kita ketahui ada empat buah, yaitu:
1.       Taurat, diturunkan oleh Allah kepada Nabi Musa as dalam bahasa Ibrani. Isinya yang terutama adalah mengajak manusia kepada agama tauhid.
2.       Zabur, diturunkan oleh Allah kepada Nabi Daud as dalam bahasa Qibti. Isinya ialah merupakan nyanyian-nyanyian yang memuji Allah serta menganjurkan agar manusia itu beragama tauhid.
3.       Injil, diturunkan oleh Allah kepada Nabi Isa as dalam bahasa Suryani. Isinya menegaskan bahwa Allah itu Esa.
4.       Al Quran, diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw dalam bahasa Arab. Al Quran ini merupakan kitab yang terakhir dan melengkapi semua isi kandungan kitab-kitab suci samawiyah yang sebelumnya. Isi Al Quran banyak mengandung ajaran yang sangat relevan dengan situasi umat di masa kini.
Dengan beriman kepada kitab-kitab Allah, maka kita dapat memiliki keyakinan yang kuat akan kebenaran terhadap jalan yang kita tempuh. Jalan yang harus kita tempuh tersebut sudah tercantum dalam kitab-kitab Allah, untuk umat-umat pada masanya. Sehingga, karena kita tidak tahu ke mana arah jalan yang akan kita tempuh, baik ketika kita berada di dunia, maupun setelah kita tidak lagi berada di dunia, maka dengan meyakini akan kitab Allah, kita akan mendapatkan gambaran apa yang harus kita lakukan untuk bisa mengikuti jalan yang diminta oleh Allah untuk kita ikuti. Setiap perilaku yang boleh dan tidak boleh kita lakukan, semua terdapat dalam kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi dan Rasul. Sehingga dengan mengimani kepada kitab Allah, kita akan tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak, dengan begitu, kita akan selalu hidup dalam jalan yang lurus yang telah digariskan oleh Allah untuk kita jalankan.

VII.     Iman Kepada Para Rasul/Nabi Allah
Beriman kepada Rasul-Rasul Allah berarti kita mengakui dengan sepenuhnya, bahwa Allah SWT mengutus para Rasul/Nabi untuk menyampaikan wahyu-wahyu-Nya yang berisikan tauhid, hukum-hukum, sejarah dan akhlak, untuk membimbing manusia ke jalan kebenaran, dan untuk membuktikan bahwa mereka memang betul-betul seorang Nabi/Rasul, maka para Nabi/Rasul tersebut diberikan keistimewaan atau mukjizat. Kita juga harus meyakini bahwa para Rasul tersebut wajib untuk dituruti apa-apa yang diperintahkannya, dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya.
Oleh karena banyak orang yang mengakui dirinya sebagai Rasul dan Nabi, maka kita yang memiliki kewajiban untuk mengimani para Rasul dan Nabi Allah haruslah tahu sifat-sifat para Nabi dan Rasul yang begitu mulia, yang mustahil sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat yang tercela. Adapun sifat-sifat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
1.       Shiddiq (benar), mustahil para Rasul bersifat Kidzib (dusta)
2.       Amanah (jujur), mustahil para Rasul bersifat Khianat (penipu)
3.       Tabligh (menyampaikan), mustahil para Rasul bersifat Kitman (menyembunyikan)
4.       Fathonah (cerdik), mustahil para Rasul bersifat Baladhlah (bodoh)
Adapun dengan kita beriman kepada para Rasul dan Nabi Allah, diharapkan kita dapat meyakini bahwa para Rasul dan Nabi itu bisa kita turuti apa-apa yang diperintahkannya dan apa-apa yang dilarangnya, sesuai dengan perintah Allah. Kita juga harus meyakini bahwa para Rasul itu menerima wahyu yang mengandung petunjuk-petunjuk, peraturan-peraturan yang dikehendaki oleh Allah agar disampaikan kepada umatnya yang bersangkutan, baik itu yang berhubungan dengan keimanan, hukum-hukum, kemasyarakatan dan lain-lain.
Kita juga harus meyakini bahwa para Rasul dan Nabi mendapat petunjuk dan mukjizat dari Allah guna mengatasi orang yang menentangnya. Para Rasul dan Nabi juga merupakan manusia-manusia yang memiliki pribadi yang mulia, terpelihara dari perbuatan maksiat, pikiran yang tajam, perkataan yang mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat berharga sebagai pandangan hidup manusia. Mereka juga tidak dapat dipengaruhi oleh setan, kekuatan sihir, iblis dan lain sebagainya.

Beriman kepada hari kiamat berarti bahwa kita percaya dengan sepenuhnya bahwa setelah alam dan segala isinya dihancurkan oleh Allah SWT dan semua makhluk akan mati, kemudian dibangkitkan dari alam kuburnya untuk diperhitungkan segala amal kebaikan dan kejahatan dengan seteliti mungkin, kemudian baru ditentukan tempatnya sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup di dunia. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 6-7 dan An Najm ayat 39-41:
وَأنَّهُ يُحْىِ الْمَوْتٰى وَأنَّهُ عَلىٰ كُلِّ شَيْىءٍقَدِيْرٌ۝وَأنَّ السَّـاعَةَ آتِيَةٌ لاَّرَيْبَ فِيْهَاوَأنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبـُوْرِ۝ (الحج : ٦-٧)
Artinya    :  “Dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan pada-Nya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang yang di dalam kubur.” (QS. Al Hajj: 6-7)
وَأنْ لَّيْسَ لِلإنْسَـانِ إلاَّمَاسَعَا۝وَأنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرٰى۝ثُمَّ يُجْزٰٮهُ الْجَزَآءَالأوْفٰى۝ (النجم : ٣٩-٤١)
Artinya    :  “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS. An Najm: 39 – 41)
Melihat dari kejadiannya, maka yang disebut hari kiamat itu dibagi menjadi dua kelompok:
1.       Kiamat sughra (kecil)
Kiamat sughra ialah saat-saat dimana manusia menghadapi masa kematiannya. Hal ini berdasar pada sunnah Rasulullah Saw, yaitu:
مَنْ مَاتَ فـَقـَدْقـَامَتْ قِيَامَتـُهُ
Artinya  :  “Orang yang mati itu, (berarti) telah datang kiamatnya sendiri.”
Rentetan peristiwa kiamat sughra yaitu:
a.        Masuk ke alam barzah (kubur), setiap orang yang mati, bagaimanapun caranya, akan masuk ke alam barzah, yaitu batas waktu antara mati hingga datangnya hari kiamat.
b.        Pertanyaan-pertanyaan memasuki alam barzah, setiap orang yang sudah memasuki alam barzah, akan diberi pertanyaan untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak mentaati peraturan-peraturan Allah. Pengecualian dari hal ini adalah untuk para Nabi, Rasul dan para syuhada yang gugur di jalan Allah. Adapun jawaban dari pertanyaan tersebut berdasarkan dari setiap amal perbuatan dan ibadah kita sehari-hari.
c.        Hasil yang diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan di alam barzah, setiap orang yang sudah diberikan pertanyaan, maka akan mendapatkan dua kemungkinan hasil yang bisa diperoleh, orang yang lulus (taat) akan mendapatkan nikmat kubur, sedangkan orang yang gagal (kafir, munafik, banyak maksiat dan sebagainya) akan mendapat siksa kubur.
2.       Kiamat qubra (besar)
Kiamat qubra yaitu permulaan hancurnya alam semesta ini, kemudian dibangkitkan semua manusia dari kuburnya untuk dikumpulkan di padang mahsyar dan di sana mereka menunggu ketentuan tempatnya masing-masing, surga atau neraka.
Rentetan peristiwa kiamat qubra adalah:
a.        Hari kebangkitan (ba’ats) dan mahsyar, yaitu hari dimana Allah SWT membangunkan semua insan yang telah mati, untuk dikumpulkan di padang mahsyar, yaitu tempat berkumpulnya manusia setelah dibangkitkan dari alam barzah untuk menunggu perhitungan yang seadil-adilnya dari segala amal perbuatan baik dan jahat selama mereka hidup di dunia.
b.        Mizan, shirat dan Al Kautsar. Mizan merupakan timbangan untuk menimbang amal manusia secara terperinci. Dari hasil timbangan amal tersebut, maka akan ditentukan siapa yang berhak untuk memasuki surga, dan siapa yang harus masuk neraka. Shirat ialah jembatan yang membentang di atas api neraka yang dilalui oleh setiap manusia. Adapun bentuk shirat itu sendiri tergantung dari amal perbuatan kita di dunia, jika kita banyak melakukan amal-amal jelek, maka shirat tersebut akan berbentuk kecil, halus dan tajam seumpama bilah pedang. Sedangkan jika kita banyak melakukan amal-amal baik, maka shirat tersebut akan berbentuk lebar dan cepat pula kita melaluinya. Al Kautsar adalah sebuah telaga atau sungai. Telaga Kautsar ini dimiliki oleh setiap Rasul dan digunakan oleh para umatnya sebelum mereka memasuki surga.
c.        Surga dan neraka. Surga adalah suatu tempat pembalasan bagi para mukmin yang banyak berbuat amal kebaikan selama hidup di dunia. Surga ini memiliki sifat kekal di dalamnya. Kebalikan dari surga, neraka merupakan suatu tempat pembalasan bagi setiap orang yang berbuat dosa dan kemaksiatan. Neraka ini bisa bersifat kekal maupun sementara waktu, tergantung dari perbuatan yang dilakukan manusia selama di dunia.
Beriman kepada hari kiamat ini mengandung arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Hal ini disebabkan karena dengan beriman kepada hari kiamat akan menambah keyakinan kita atas kekuasaan Allah yang sanggup menciptakan alam yang nyata, kemudian sanggup pula menggantikannya dengan alam yang ghaib. Kita juga akan lebih termotivasi untuk selalu melakukan amal shaleh dan meninggalkan perbuatan maksiat. Selain itu dengan mengimani hari kiamat, maka orang-orang mukmin yang selalu mendapatkan ketidakadilan selama hidupnya di dunia akan merasa tenang karena mereka yakin bisa mendapatkan balasan yang seadil-adilnya di hadapan Allah SWT.

Qadha adalah kenyataan hukum yang telah ditetapkan Allah SWT sejak zaman azali (dalam ilmu Tuhan) terhadap sesuatu yang sekarang telah berujud, seperti hidup, mati, senang, susah dan lain sebagainya (praktis kenyataan)[9]. Qadar adalah rencana (program) yang berada di dalam ilmu Tuhan Allah (zaman azali) untuk menentukan segala sesuatu secara teoritis (rencana)[10]. Dari pengertian tersebut, bisa disimpulkan bahwa qadha’ merupakan manifestasi dari qadar, sedangkan qadar hanyalah merupakan rencana-rencana saja, sehingga qadha’ dan qadar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Beriman kepada qadha’ dan qadar adalah kita yakin dan percaya dengan sepenuhnya bahwa sesuatu yang telah atau sedang maupun yang akan terjadi adalah kehendak dari Allah SWT, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 38:
وَكـَانَ أمْرُاللـّٰهِ قـَدَرًامَّقـْدُوْرًا (الأحزاب : ٣٨)
Artinya    :  “Adalah segala urusan Allah itu, menurut ketentuan yang telah ditentukan (ditakdirkan).” (QS. Al Ahzab: 38)
Tapi akhir-akhir ini banyak sekali dari manusia yang kadang menyalahkan takdir. Hal ini tentu saja karena mereka tidak mengetahui bagaimana dan apa takdir itu sendiri. Meskipun segala sesuatu yang ada di dunia ini sudah ada ketetapan atau takdir dari Allah SWT, tapi kita juga harus mengingat bahwa dalam hidup di dunia ini Allah menganjurkan kita untuk berusaha, berikhtiar dan berdoa dengan semaksimal mungkin, sedangkan hasilnya baru kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Tapi hal ini tidak berarti bahwa kita pasrah begitu saja dengan nasib dan takdir yang ada pada kita, tapi kita juga harus berusaha, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Ar Ra'd ayat 11:
إنَّ اللـّٰهَ لاَيُغـَيِّرُمَابـِقـَوْمٍ حَتىّٰ يُغـَيِّرُوْامَابـِأنـْفـُسِهِمْ (الرعد : ١١)
Artinya    :  “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan (nasib) suatu kaum, kecuali (apabila) mereka itu sendiri (mau) mengubah keadaan[11] yang ada pada dirinya.” (QS. Ar Ra'd: 11)
Hal tersebut berarti bahwa kegagalan, nasib yang “jelek” yang menimpa manusia, mungkin saja bukan merupakan takdir, tapi hanyalah berupa ujian atau cobaan dari Allah. Dalam hal ini ada kemungkinan bahwa Allah ingin melihat seberapa banyak kita mau untuk berusaha dan berikhtiar. Apakah dengan satu dua kegagalan, kita akan menyerah pada nasib, atau kita masih mau berusaha semaksimal mungkin sampai akhirnya memang takdir yang menentukan. Meskipun begitu, kegagalan yang kita peroleh sudah pasti akan selalu mengandung hikmah yang diberikan oleh Allah seandainya kita sendiri mau untuk berpikir. Allah tidak mungkin akan melakukan “kejahatan” dengan selalu memberi nasib jelek kepada manusia. Hal ini telah ditunjukkan oleh firman Allah dalam Al Quran surat An Nisa' ayat 79:
مَآأصَابَكَ مِنْ حَسَنـَةٍ فـَمِنَ اللـّٰهِوَمَآأصَابَكَ مِنْ سَيِّئـَةِفـَمِنْ نـَّفـْسِكَ (النسآء : ٧٩)
Artinya    :  “Sesuatu kebaikan itu hakikatnya (datang) dari Allah belaka dan kejahatan yang menimpa dirimu adalah (kesalahanmu) sendiri.” (QS. An Nisa': 79)
Untuk memudahkan kita memahami hubungan takdir dan usaha ikhtiar serta doa yang kita mohonkan kepada Allah, maka perlu mengetahui macam-macam takdir, yaitu:
1.       Takdir yang mubram, yaitu suatu takdir yang sudah menjadi keputusan yang positif dari Allah sejak zaman azali, sehingga tidak dapat dirubah dengan doa dan usaha apapun.
2.       Takdir yang mu’allaq, yaitu suatu takdir yang mana keputusan tersebut masih dapat dirubah, sehingga di sini kita memiliki kewajiban untuk berikhtiar, berdoa dan berusaha sehingga takdir itu bisa dirubah.
Dari beberapa hal di atas, kita bisa mengambil kesimpulan tentang hikmah kita beriman kepada takdir Allah, antara lain:
1.       Mendorong kita untuk lebih keras dalam berusaha, berikhtiar dan berdoa dalam usaha mencapai keinginan dan cita-cita kita.
2.       Menghindari sifat putus asa saat usaha yang kita lakukan tidak mencapai hasil sesuai dengan apa yang kita harapkan.
3.       Meyakinkan kita bahwa di atas segala hal, masih ada yang berkuasa atas semua yang ada di dunia ini, betapa canggih dan modern ilmu pengetahuan yang ada saat ini, tetapi saat kuasa Allah sudah berbicara, maka ilmu pengetahuan paling modern dan paling canggih sekalipun tidak akan mampu untuk menandinginya.
4.       Menghindarkan kita dari sifat sombong dan bangga diri, karena segala sesuatu yang kita miliki, segala sesuatu yang ada dalam diri kita, merupakan pemberian dari Allah dan juga milik Allah yang dipinjamkan oleh Allah untuk kita, sehingga Allah sewaktu-waktu dapat mengambilnya tanpa harus minta ijin kepada kita.

BAB III

Apabila kita memperhatikan kisah para Rasul, maka apa yang mereka serukan pertama kali saat mereka berdakwah adalah tentang tauhid, bahwa kita diwajibkan untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya dan menjauhi syirik walaupun dengan syariat yang berbeda-beda. Hal ini bukan berarti para Rasul tidak menyeru kepada keutamaan-keutamaan yang lain, namun mereka juga membawa syariat dan konsep hidup untuk memperbaiki urusan hidup umatnya di dunia. Mereka juga memerintahkan yang makruf dan menjauhi yang munkar. Meskipun begitu, keutamaan yang paling besar adalah mentauhidkan Allah dan bertaqwa kepada-Nya.
Pada zaman Rasulullah Saw, aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri, karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau.  Pada masa ini, saat membicarakan masalah aqidah maka cakupannya cukup jelas, yaitu tentang tauhid, tentang dien yang hanif, dien yang lurus, dien yang fithrah (suci), yang Allah telah menciptakan manusia atas dasar fithrah. Dia selalu ada bersamaan dengan adanya manusia, sebagaimana diterangkan dalam Al Quran sebagai sumber sejarah yang kuat dalam surat Ar Ruum ayat 30, yang berbunyi:
فـَأقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفـًاۚفِطْرَتَ اللـّٰهِ الـَّتِىْ فـَطَرَالنـَّاسَ عَلـَيْهَاۚلاَتـَبْدِيْلَ لِخَلـْقِ اللـّٰهِۚ ذٰ لِكَ الدِّيْنُ الـْقـَيِّمُ وَلٰـكِنَّ أكـْثـَرَالنـَّاسِ لاَيَعْلـَمُوْنَ (الروم : ٣٠)
Artinya    :  “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah[12] yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum: 30)
Pada masa ini, Rasulullah banyak menggunakan kebanyakan waktunya untuk berdakwah kepada mentauhidkan Allah dengan ibadah dan taat. Inilah tuntutan laa ilaaha illallaah dan muhammadar Rasulullah. Adapun tauhid dalam kebanyakan ayat Al Quran adalah tauhid uluhiyah (yaitu memurnikan semua bentuk ibadah hanya semata-mata untuk Allah, agar manusia mengetahui bahwasanya mereka hanya beribadah kepada Allah, sehingga mereka hanya mau tunduk dan taat kepada perintah-Nya), rububiyah (yaitu memurnikan hanya kepada Allah dalam menciptakan, memiliki dan mengatur agar manusia mengakui keagungan Allah atas semua makhluk-Nya), asma’ dan sifat-Nya (yaitu menetapkan bahwa Allah mempunyai nama-nama baik dan sifat-sifat yang tinggi), berdakwah kepada ikhlas beribadah dan hanya beribadah kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya serta menetapkan dasar-dasar keyakinan yaitu iman dan Islam.
Terkadang, aqidah juga digunakan istilah ushuluddin (pokok-pokok agama), as sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad), al fiqhul akbar (fiqih terbesar), ahlus sunnah wal jamaah (mereka yang menetapi sunnah Nabi Saw dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yang berpegang atas jalan Rasulullah Saw dari generasi pertama sampai generasi ketiga yang mendapat pujian dari Nabi Saw. Ringkasnya, aqidah Islamiyah yang shahih bisa disebut tauhid, fiqih akbar dan ushuluddin, sedangkan manhaj (metode) dan contohnya adalah ahlul hadits, ahlul sunnah dan salaf.
Namun pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman-pemahaman baru dalam aqidah Islamiyah. Beberapa pemahaman baru ini antara lain:
1.       Rawafidh, yaitu golongan yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab dan mengklaim yang berhak adalah Ali bin Abi Thalib, mengkafirkan sahabat kecuali beberapa orang saja.
2.       Khawarij, yaitu golongan yang mengkafirkan orang-orang yang berdosa besar atau ahli maksiat. Muncul pertama kali tahun 73 H.
3.       Qadariyah, yaitu golongan yang meyakini bahwa manusia itu sendirilah yang menciptakan perbuatannya, sedangkan Allah tidak menetapkan qadar apa-apa.
4.       Murji’ah, yaitu golongan yang menganggap bahwa amal perbuatan bukan termasuk iman, iman cukup di hati dan lisan saja tanpa harus diwujudkan dalam amal nyata.
5.       Jahmiyah, yaitu golongan yang meyakini bahwa Allah yang menentukan baik dan buruknya perbuatan seseorang, manusia tidak punya kuasa ikhtiar apa-apa.
6.       Mu’tazilah, mereka meyakini bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan bukan Muslim tetapi di antara keduanya.
7.       Musyabbihah, yaitu golongan yang melampaui batas dalam menetapkan sifat-sifat Allah dengan menyerupakan sifat Allah dengan makhluknya.
8.       Najjariyah, yaitu golongan yang menyatakan bahwa iman itu hanya mengenal Allah dan merendahkan diri di hadapan-Nya serta menafikkan sifat-sifat Allah.
9.       Saba’iyah, yaitu golongan yang beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sebagai Tuhan atau yang tidak beranggapan demikian tapi mereka berkeyakinan bahwa Ali berada di atas awan dan tidak mati.
10.   Qaramithah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa Allah adalah cahaya yang luhur yang melahirkan para Nabi dan imam, karena itu para imam mengetahui yang ghaib, dan berkuasa atas apa saja.
Selain golongan-golongan tersebut, masih ada lagi yang lain, baik berupa paham-paham, Filsafat, bahkan sampai kepada dunia politik yang mengatasnamakan Islam. Kita mulai kesulitan dalam menemukan aqidah salafus shalih di antara puing-puing kebobrokan yang ada sekarang ini, hampir-hampir tidak terlihat. Aqidah tersebut telah lenyap dari otak dan hati, tanda-tanda keberadaannya telah hilang dan terhapus dari kehidupan manusia, baik kehidupan individu maupun kelompok, kecuali orang yang dirahmati oleh Allah, dan mereka ini sedikit sekali. Apa yang tertinggal dalam diri kita hanyalah seluruh gambaran yang kita lihat dalam halaman kenyataan ini, sebagai bukti bahwa iman yang benar telah lenyap dari masyarakat kita, dan aqidah tersebut telah lenyap dari hati, atau minimal telah goyah. Inilah lembaran sejarah masa kini yang berkisah seraya menangisi kondisi dan keadaan terakhir umat manusia, yang kegelapannya hampir-hampir melupakan kita dari cahaya yang pernah kita lihat ketika menyaksikan saat-saat singkat kehidupan dalam era terbaik dan generasi terbaik umat Islam.

Aqidah yang benar merupakan penggerak utama bagi amal yang bermanfaat, sehingga penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Tanpa aqidah yang benar, manusia akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang lama kelamaan mungkin menumpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit. Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar merupakan masyarakat hewani, yang tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekalipun mereka bergelimang materi yang justru menyeret mereka pada kehancuran sebagaimana kita lihat pada masyarakat jahiliyah, karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan pengarahan dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar kecuali aqidah yang benar.
Penyimpangan aqidah yang terjadi pada diri seseorang bisa berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya, bukan saja di dunia, tetapi juga berlanjut sebagai kesengsaraan yang tidak berkesudahan di akhirat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas, penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit. Adapun sebab-sebab adanya penyimpangan dari aqidah yang benar adalah sebagai berikut:
1.       Kebodohan terhadap aqidah yang benar, kebanyakan dari kita saat ini tidak lagi mau untuk mempelajari aqidah yang benar, sehingga kita menjadi orang-orang yang tidak mengetahui mana aqidah yang benar, dan juga mana aqidah yang salah. Hal ini menyebabkan mereka meyakini yang haq sebagai sesuatu yang bathil dan yang bathil sebagai sesuatu yang haq.
2.       Fanatik kepada sesuatu yang sudah turun temurun dari orang tua atau nenek moyang kita, bahkan meskipun hal tersebut adalah suatu kebathilan.
3.       Taqlid buta terhadap tokoh-tokoh yang dihormati, dengan mengambil pendapat mereka dalam aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenaran yang disampaikan orang tersebut terhadap kita. Sehingga apabila mereka sesat, maka kita juga akan ikut tersesat.
4.       Berlebihan dalam mencintai para wali dan orang-orang yang shaleh, serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya. Sehingga kita menjadikan mereka sebagai perantara antara Allah dengan makhluk-Nya, misalnya dengan mengagungkan makam-makam mereka secara berlebihan, berdoa dan meminta sesuatu di makam-makam mereka dengan melupakan bahwa yang berkuasa atas segala sesuatu yang kita inginkan adalah Allah.
5.       Lalai terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang ada di alam raya, dan yang tertuang dalam kitab-kitab suci Allah. Kita bahkan terbuai dengan segala hasil teknologi dan kebudayaan, dan mengagungkan teknologi tesebut sebagai hasil kerja keras manusia, dan tidak melihat adanya kebesaran Allah di belakang mereka.
6.       Para orang tua yang tidak lagi memberikan pengarahan yang benar terhadap anak-anaknya untuk berjalan di jalan yang diridhai oleh Allah.
7.       Media pendidikan dan media informasi yang tidak lagi peduli terhadap kebenaran akan ajaran Allah. Bahkan untuk media informasi yang ada saat ini, ada kecenderungan bahwa mereka justru semakin merusak aqidah yang ada dalam tatanan masyarakat dengan berbagai informasi yang diberikan yang tidak lagi disaring mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk diberikan kepada masyarakat.
Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yang disebut di atas, kecuali dengan mendalami, memahami dan mengaplikasikan aqidah Islamiyah yang shahih agar hidup kita dapat berjalan sesuai kehendak Illahi, demi kebahagiaan kita baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman dalam surat An Nisa' ayat 69 dan An Nahl ayat 97:
وَمَنْ يُطِعِ اللـّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فـَأوْلٰـٓٮٕكَ مَعَ الـَّذِيْنَ أنـْعَمَ اللـّٰهُ عَلـَيْهِمْ مِّنَ النـَّبـِيِّـۧـنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشـُّهَدَآءِوَالصَّـٰـلِحِيْنَ ۚوَحَسُنَ أوْلٰـٓٮٕكَ رَفِيْقـًا (النسآء : ٦٩)
Artinya    :  “Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahkan nikmat Allah, yaitu: Nabi-Nabi, para Shiddiqin[13], orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa': 69)
مَنْ عَمِلَ صٰلِحًامِنْ ذَكَرٍأَوْأُنْثٰى وَهُوَمُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيٰوةًطَيِّبَةًۚوَلَنَجْزِيَنَّهُمْ  أَجْرَهُمْ بِأْحْسَنِ مَاكَانُوْايَعْمَلُوْنَ (النحل : ٩٧)
Artinya    :  “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[14] dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97)
Dengan adanya beberapa penyimpangan terhadap aqidah yang sudah disebutkan di atas, dan juga sebab-sebab yang menimbulkan penyimpangan-penyimpangan terhadap aqidah itu sendiri, maka diperlukan pemahaman tentang bagaimana menanggulangi penyimpangan-penyimpangan terhadap aqidah yang antara lain adalah sebagai berikut:
1.       Kita harus kembali kepada pegangan yang sudah diwariskan oleh Rasulullah kepada kita, yaitu Al Quran dan sunnah Rasulullah, karena dua hal tersebut terbukti mampu untuk memperbaiki kehidupan bangsa Arab yang jahiliyah menuju ke masa kejayaan, tidak saja dalam hidup mereka di dunia, tapi juga di akhirat.
2.       Selain dengan berpegang teguh kepada Al Quran dan Al Hadits, kita juga harus mau untuk mempelajari dan mengkaji aqidah golongan-golongan yang sesat. Hal ini akan menjadikan kita lebih waspada saat kita menemukan suatu aqidah yang tidak sesuai dengan Al Quran dan Al Hadits, sehingga kita tidak akan terperosok ke dalamnya.
3.       Memberikan perhatian yang cukup terhadap aqidah-aqidah yang benar dalam pelajaran-pelajaran di sekolah, dan mengadakan evaluasi yang tepat dalam memberikan materi tersebut kepada siswa.
4.       Menyebarkan para dai untuk meluruskan aqidah Islam yang benar dan menjawab serta menolak seluruh aqidah yang bathil.
Dengan adanya beberapa cara untuk menanggulangi adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap aqidah yang benar, maka diharapkan kita mampu berjalan kembali di jalan yang lurus.

Aqidah Islam merupakan aqidah yang begitu istimewa, hal ini bisa kita lihat dari tanda-tandanya sebagai berikut:
1.       Sumbernya murni, karena bersumber kepada kitab Allah, sunnah Rasul dan ijma’ orang-orang salaf serta ucapannya.
2.       Berdiri di atas dasar menyerahkan semuanya kepada Allah dan Rasul-Nya, karena masalah aqidah adalah ghaib dan urusan ghaib hendaknya didasarkan kepada Allah dan Rasul-Nya.
3.       Sesuai dengan fithrah yang lurus dan akal yang sehat karena aqidah ini mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
4.       Bersambung sanadnya kepada Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan imam-imam pembawa petunjuk baik perkataan, perbuatan, ilmu dan keyakinan.
5.       Terang dan jelas, karena sumbernya dari Allah, Rasul-Nya dan salaful ummah. Bersih dari kegoncangan, perselisihan, pertentangan dan samar-samar serta bersih dari Filsafat.
Karena aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dengan Filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Manfaat yang kita peroleh dari mempelajari aqidah Islamiyah antara lain:
1.       Membebaskan kita dari ubudiyah/penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya menghamba kepada kekuasaan, harta, pimpinan maupun yang lainnya.
2.       Membentuk pribadi yang seimbang, yaitu selalu taat kepada Allah, baik dalam keadaan suka maupun duka.
3.       Kita akan merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas, takut kepada kurang rezeki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia, termasuk takut kepada kematian. Sehingga dia penuh tawakal kepada Allah.
4.       Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa, sekokoh gunung. Aqidah hanya berharap kepada Allah dari ridha terhadap segala ketentuan Allah.
5.       Aqidah Islamiyah berdasarkan kepada asas ukhuwah (persaudaraan) dan persamaan, tidak membedakan antara miskin dan kaya, antara pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam, dan antara orang Arab dan bukan Arab, kecuali kadar ketakwaan kita di sisi Allah SWT.


Imam Syafi’i, begitulah orang-orang menyebut dan mengenal nama ini, begitu lekat di dalam hati, setelah nama-nama seperti Khulafaur Rasyidin. Namun sangat disayangkan, orang-orang mengenal Imam Syafi’i hanya dalam kapasitasnya sebagai ahli fiqih. Padahal beliau adalah tokoh ahlus sunnah wal jamaah dengan multi keahlian. Karena itu, ketika memasuki Baghdad, beliau dijuluki Nashirul Hadits (pembaharu) pada abad kedua Hijriah. (Siar A’lam, 10/5-6; 46 dan Tadzkiratul Huffazh, 1/361)
Dalam hal aqidah, Imam Syafi’i memiliki wasiat yang berharga. Muhammad bin Ali bin Shabbah Al Baldani berkata: “Inilah Imam Syafi’i yang diberikan kepada para sahabatnya, ‘Hendaklah anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdullah adalah hamba dan Rasul-Nya. Kami tidak membedakan para Rasul antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan semesta alam yang tiada bersekutu dengan sesuatupun. Untuk itulah aku diperintah, dan saya termasuk golongan orang yang menyerahkan diri kepada-Nya. Sesungguhnya Allah membangkitkan orang dari kubur dan sesungguhnya surga itu haq, azab neraka itu haq, hisab itu haq, dan timbangan amal serta jembatan itu haq dan benar adanya. Allah SWT membalas hamba-hamba-Nya sesuai dengan amal perbuatannya. Di atas keyakinan ini aku hidup dan mati, dan dibangkitkan lagi insya Allah. Sesungguhnya Al Quran itu kalam Allah, bukan makhluk ciptaan-Nya. Sesungguhnya Allah di hari akhir nanti akan dilihat oleh orang-orang mukmin dengan mata telanjang, jelas, terang tanpa ada suatu penghalang, dan mereka mendengar firman-Nya, sedangkan Dia berada di atas ‘Arsy. Sesungguhnya takdir, baik buruknya adalah berasal dari Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung. Tidak terjadi sesuatu kecuali apa yang Allah kehendaki dan Dia tetapkan dalam qadha’ dan qadar-nya.
Sesungguhnya sebaik-baik manusia setelah Baginda Rasul Saw adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra. Aku mencintai dan setia kepada mereka, dan memohon ampun mereka, bagi pengikut perang Jamal dan Shiffin, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, dan bagi segenap Nabi. Kami setia kepada pemimpin negara Islam (yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah) selama mereka mendirikan shalat. Tidak boleh membangkang serta memberontak kepada mereka dengan senjata. Kekhalifahan (kepemimpinan) berada di tangan orang Quraisy. Dan sesungguhnya setiap yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun diharamkan. Dan nikah mut’ah adalah haram.
Aku berwasiat kepadamu dengan taqwa kepada Allah, konsisten dengan sunnah dan atsar dari Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Tinggalkanlah bid’ah dan  hawa nafsu. Bertaqwalah kepada Allah sejauh yang engkau mampu. Ikutilah shalat Jumat, jamaah dan sunnah (Rasul). Berimanlah dan pelajarilah agama ini. Siapa yang mendatangiku di waktu ajalku tiba, maka bimbinglah aku membaca “Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syarikalahu wa anna muhammadan ‘abduhu warasuluh.”
Di antara yang diriwayatkan Abu Tsaur dan Abu Syu’aib tentang wasiat Imam Syafi’i adalah, ‘Aku tidak mengkafirkan seseorang dari ahli tauhid dengan sebuah dosa, sekalipun mengerjakan dosa besar, aku serahkan mereka kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada takdir serta iradah-Nya, baik atau buruknya, keduanya adalah makhluk, diciptakan atas para hamba dari Allah SWT, siapa yang dikehendaki menjadi kafir, kafirlah dia, dan siapa yang dikehendaki-Nya menjadi mukmin, mukminlah dia. Tetapi Allah SWT tidak ridha dengan keburukan dan kejahatan dan tidak memerintahkan atau menyukainya. Dia memerintahkan ketaatan, mencintai dan meridhainya. Orang yang dari umat Muhammad masuk surga bukan karena kebaikannya (tetapi karena rahmat-Nya). Dan orang jahat masuk neraka bukan karena kejahatannya semata. Dia menciptakan makhluk berdasarkan keinginan dan kehendak-Nya, maka segala sesuatu dimudahkan bagi orang yang diperuntukkannya, sebagaimana yang terdapat dalam Hadits (riwayat Al Bukhari, Muslim dan lainnya).
Aku mengakui hak salaf yang dipilih oleh Allah SWT untuk menyertai Nabi-Nya, mengambil keutamaannya. Aku menutup mulut dari apa yang terjadi di antara mereka, pertentangan ataupun peperangan baik besar maupun kecil. Aku mendahulukan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali ra. Mereka adalah Khulafaur Rasyidin. Aku ikat hati dan lisanku, bahwa Al Quran adalah kalamullah yang diturunkan bukan makhluk yang diciptakan. Sedangkan mempermasalahkan lafazh (ucapan seseorang yang melafazkan Al Quran apakah makhluk atau bukan) adalah bid’ah. Iman adalah ucapan dan amalan yang mengalami pasang dan surut. (Al Amru bil Ittaba’, As Suyuthi, hal 152-154, tahqiq Mustofa Asyur, ijtima’ul Juyusyil Islamiyah, Ibnul Qayyim, 165)
Kesimpulan dari wasiat di atas adalah:
1.       Aqidah Imam Syafi’i adalah ahlus sunnah wal jamaah.
2.       Sumber aqidah Imam Syafi’i adalah Al Quran, As Sunnah. Beliau pernah mengucapkan:  “Sebuah ucapan seperti apapun tidak akan pasti (tidak diterima) kecuali dengan (dasar) kitabullah atau sunnah Rasul-Nya. Dan setiap yang berbicara tidak berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah maka ia adalah mengigau (membual, tidak ada artinya). Wallahu a’lam.” (Manaqibusy Syafi’i 1/470 & 475)
3.       Manhaj Imam Syafi’i dalam aqidah menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan menolak apa yang ditolak oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena itu beliau menetapkan sifat istiwa’ (Allah bersemayam di atas), ru’yatul mukminin lirrabbihim (orang mukmin melihat Tuhannya) dan lain sebagainya.
4.       Dalam hal sifat-sifat Imam Syafi’i mengimani makna lahirnya lafazh tanpa takwil (meniadakan makna tersebut) apalagi ta’thil (membelokkan maknanya). Beliau berkata “Hadits itu berdasarkan lahirnya. Dan jika ia mengandung makna lebih dari satu, maka makna yang lebih mirip dengan lahirnya itu yang lebih utama.” (Al Mizanul Kubra, 1/60, Ijma’ Juyusy, 95)
Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah yang harus diimani, maka beliau menjawab, “Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang telah dikabarkan oleh kitab-Nya dan dijelaskan oleh Nabi-Nya kepada umatnya. Tidak seorang pun boleh menolaknya setelah hujjah (keterangan) sampai kepadanya karena Al Quran turun dengan membawa nama-nama dan sifat-sifat itu. Maka barang siapa yang menolaknya setelah tegaknya hujjah, ia adalah kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah, ia adalah ma’dzur (diampuni) karena kebodohannya, sebab hal (nama-nama dan sifat-sifat Allah) itu tidak bisa diketahui dengan akal dan pemikiran. Allah memberitahukan bahwa Dia memiliki sifat “Yadaini” (dua tangan), dengan firman-Nya: “Tetapi kedua tangan Allah terbuka” (QS. Al Maidah: 64). Dia memiliki wajah, dengan firman-Nya: “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya.” (QS. Al Qashash: 88).” (Manaqib Asy Syafi’i, Baihaqi, 1/412-413; Ushull’tiqad Ahlis Sunnah, Al Lalikai, 2/702; Siar A’lam An Nubala, 10/79-80; Ijtima’ Al Juyusy Al Islamiyah, Ibnu Qayyim, 94)
5.       Kata-kata “As Sunnah” dalam ucapan dan wasiat Imam Syafi’i dimaksudkan untuk tiga arti. Pertama, adalah apa saja yang diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah (berarti lawan dari bid’ah). Kedua, adalah aqidah shahihah yang disebut juga tauhid (lawan dari kalam atau ra’yu). Berarti ilmu tauhid adalah bukan ilmu kalam begitu juga sebaliknya. Imam Syafi’i berkata: “Siapa yang mendalami ilmu kalam, maka seakan-akan ia telah menyelam ke dalam samudera ketika ombak sedang menggunung.” (Al Mizanul Kubra, Asy Sya’rani, 1/60). Ketiga, As Sunnah dimaksudkan sebagai sinonim dari hadits yaitu apa yang datang dari Rasulullah selain Al Quran.
6.       Ahlus Sunnah disebut juga oleh Imam Syafi’i dengan sebutan Ahlul Hadits. Karena itu beliau juga berwasiat, “Ikutilah Ahlul Hadits, karena mereka adalah manusia yang paling banyak benarnya.” (Al Adab Asy Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/231). “Ahli Hadits di setiap zaman adalah bagaikan sahabat Nabi.” (Al Mizanul Kubra, 1/60).
Di antara Ahlul Hadits yang diperintahkan oleh Imam Syafi’i untuk diikuti adalah Imam Ahmad bin Hambal, murid Imam Syafi’i sendiri yang menurut Imam Nawawi: “Imam Ahmad adalah imamnya Ashabul Hadits, imam Ahli Hadits.” (Al Majmu’, 1/10).
Itulah beberapa wasiat Imam Syafi’i tentang aqidah Islamiyah, semoga hal tersebut bisa kita jadikan pelajaran dalam kehidupan kita.


BAB IV

Dari pembahasan tentang aqidah Islam dan komponen-komponennya, penyusun mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.       Iman merupakan suatu kepercayaan yang menjadi dasar dalam aqidah Islamiyah, dan dalam pelaksanaan kepercayaan tersebut, maka sudah pasti kita harus beragama Islam, dalam artian bahwa iman dan Islam merupakan dua hal yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Setiap orang Islam haruslah memiliki kepercayaan terlebih dahulu agar dia mau dengan ikhlas dalam menjalankan setiap perintah-perintah-Nya, dan setiap orang yang beriman maka dia haruslah menjadi orang Islam agar pengabdiannya kepada Allah lengkap. Sekedar percaya saja, tanpa menjalankan syariat-syariat agama Islam sama saja bohong.
2.       Beriman kepada Allah berarti kita mempercayai akan adanya Allah, kita juga harus mengetahui sifat-sifat Allah. Dengan begitu, maka dalam melakukan segala hal, kita akan selalu berhati-hati dan waspada, karena kita tahu dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah, maka Allah akan selalu melihat, mendengar dan juga mencatat setiap perbuatan yang kita lakukan. Oleh karena itu, dengan beriman kepada Allah, kita akan selalu mengerjakan perintah-perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.
3.       Beriman kepada malaikat Allah berarti kita mempercayai bahwa malaikat itu merupakan makhluk Allah yang sangat taat dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. Kita juga harus mengetahui nama-nama malaikat serta fungsi dan tugasnya masing-masing. Dengan begitu, kita tahu bahwa dalam kehidupan kita, kita selalu dijaga oleh malaikat, kita selalu diikuti oleh malaikat, dan beberapa dari mereka selalu rajin mencatat apa yang kita lakukan, baik maupun jelek.
4.       Beriman kepada kitab-kitab Allah berarti kita mempercayai bahwa Allah telah menurunkan beberapa kitab kepada Nabi dan Rasul-Nya, sebagai petunjuk untuk mengerjakan amalan-amalan di dunia. Dengan beriman kepada kitab Allah, kita akan memiliki keyakinan yang kuat dalam menjalankan setiap perbuatan kita di dunia, karena kita memiliki pedoman dan landasan dalam menjalankan perbuatan kita.
5.       Beriman kepada Rasul-Rasul Allah berarti bahwa kita mempercayai bahwa Allah telah menurunkan manusia-manusia pilihan yang berbudi pekerti mulia untuk menuntun manusia dalam melakukan setiap perbuatan mereka, yang mengajarkan kepada mereka tentang tauhid, tentang akhlak, sejarah dan lain sebagainya. Dengan beriman kepada Rasul Allah, maka kita haruslah melakukan setiap perbuatan yang kita lakukan ini sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh para Rasul Allah tersebut. Dan sebagai umatnya Nabi Muhammad, maka kita sudah seharusnya juga berusaha sedapat mungkin untuk melakukan perilaku sesuai dengan tuntutan Rasulullah.
6.       Beriman kepada hari kiamat berarti bahwa kita percaya bahwa suatu saat alam beserta segala isinya ini akan hancur, dan hanya Allah yang masih kekal, dan setelah kehancuran seluruh alam ini, kita akan dibangkitkan untuk kemudian mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita selama berada di dunia. Dengan beriman kepada hari kiamat, kita akan semakin yakin akan kekuasaan Allah terhadap ciptaan-Nya, dan kita juga akan semakin terpecut untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhaiNya, dan menjauhi setiap perbuatan yang dilarangNya.
7.       Beriman kepada takdir Allah berarti kita mempercayai bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini, berjalan dengan begitu teratur karena kehendak-Nya. Dengan beriman kepada takdir Allah, diharapkan bahwa kita akan tidak cepat berputus asa, kita juga diharapkan akan semakin giat dalam melakukan usaha, ikhtiar yang disertai dengan doa dalam menjalankan setiap usaha kita, karena meskipun semua hal sudah menjadi takdir Allah, tapi ada beberapa hal yang masih bisa dirubah oleh Allah jika kita meminta kepada-Nya.
8.       Sejak jaman Rasulullah hingga saat ini, aqidah Islamiyah sudah berkembang dengan begitu luas. Beberapa orang masih tetap kuat dalam menjalankan aqidah tersebut, dengan terus melakukan perbuatan-perbuatan yang memang terdapat dalam Al Quran dan Al Hadits. Sedangkan beberapa orang yang lain, karena suatu hal, mereka mulai terkikis aqidahnya, sehingga beberapa dari mereka memutuskan untuk mengikuti aqidah yang mereka yakini benar, tapi tidak selalu berjalan sesuai dengan Al Quran dan Al Hadits.
9.       Jika manusia mulai menyimpang dalam menjalankan aqidah mereka, jika mereka salah dalam mempercayai sesuatu, maka hal tersebut akan berakibat kesengsaraan pada kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini disebabkan karena mereka akan selalu dipenuhi dengan keragu-raguan, mereka akan berjalan tanpa arah yang jelas, mereka tidak lagi memiliki pedoman yang benar dan kuat dalam menjalankan kehidupan mereka, yang tentunya hal tersebut sangat berbahaya.
10.   Dalam menyikapi adanya penyimpangan terhadap aqidah tersebut, maka kembali kepada Al Quran dan Al Hadits merupakan satu-satunya cara agar kehidupan kita kembali ke jalan yang lurus, ke jalan yang benar, jalan yang diridhai oleh Allah. Kita juga harus mengetahui mana aqidah yang benar dan mana yang sesat agar kita tidak terperosok masuk ke dalam aqidah yang tidak sesuai dengan Allah dan Rasul-Nya.
11.   Aqidah Islam merupakan aqidah yang istimewa, karena sumbernya berasal dari Allah. Oleh karena itu, aqidah Islam adalah aqidah yang kesempurnaannya tidak perlu diragukan lagi, karena Islam adalah aqidah, dan bukan Filsafat yang diciptakan oleh manusia sehingga memiliki banyak kelemahan.
12.   Dengan mempelajari aqidah Islamiyah, kita akan terhindar dari perbuatan penghambaan kepada selain Allah, selain kita juga akan merasa tenang karena kita yakin bahwa Allah akan selalu bersama kita. Aqidah Islamiyah juga bukan ajaran yang mengkotak-kotakkan manusia ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu, karena dalam aqidah Islam, orang yang paling tinggi derajatnya di hadapan Allah bukanlah orang yang paling kaya, paling tampan, paling pandai, paling putih kulitnya, tapi orang yang paling tinggi derajatnya di hadapan Allah adalah mereka yang memiliki tingkat ketakwaan tertinggi di antara sesamanya.
13.   Salah satu imam besar Islam, yaitu Imam Syafi’i, memberikan wasiat tentang aqidah Islamiyah, di mana hal yang paling pokok dan utama adalah dengan menekankan tauhid, yaitu kita yakin bahwa tidak ada Tuhan kecuali hanyalah Allah Yang  Esa.

Dari pembahasan yang penyusun paparkan di atas, penyusun mengambil pendapat bahwa negara Indonesia, yang mengakui adanya lima agama yang berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa yang tercantum dalam Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, telah terbukti secara nyata memiliki dasar yang menyimpang dengan aqidah Islamiyah. Meskipun jelas bahwa negara Indonesia berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi ke-Esa-an Tuhan di sini juga masih harus dipertanyakan. Dalam Islam, sudah jelas, bahwa dengan keyakinan yang pasti bahwa adanya ke-Esa-an Allah yang mutlak, maka tidak ada Tuhan yang lain selain Allah. Oleh karena itu, jika negara Indonesia menghendaki aqidah Islamiyah yang benar, maka sudah seharusnya dilakukan perubahan terhadap dasar negara kita dengan hanya mencantumkan aqidah Islamiyah sebagai satu-satunya aqidah yang berlaku di Indonesia.



Anonim, 1990, Al Quran dan Terjemahannya, Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy Syarif, Medinah Munawwarah
Ibrahim, Najih, Dr., dkk., 2005, Mitsaq Amal Islami, Panduan Bagi Gerakan Islam dalam Memperjuangkan Islam, Pustaka Al 'Alaq, Solo.
Matdawam, M.N., Drs., 1989, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama, Yayasan “Bina Karier”, Yogyakarta.
Sauri, Sofyan, Dr., H., 2004, Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, Alfabeta, Bandung.
Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Dr., 2004, Edisi Indonesia: Kitab Tauhid 1, Darul Haq, Jakarta.
Suryana Af, A.T., Drs., M.Pd., dkk., 1997, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, Tiga Mutiara, Bandung.
Tim penyusun Pustaka Al Wustho, 1994, Bekal Da’i Aktivis Muslim, Pustaka Al Wustho, Solo.


[1] Thaghut ialah syetan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT. (Anonim, Al Quran dan Terjemahannya, hal.63)

[2] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. (Anonim, Al Quran dan Terjemahannya, hal. 417)
[3] Drs. M. Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama, hal. 49
[4] Drs. M. Noor Matdawam, loc. cit.

[5] Dimaksud wajib di sini adalah wajib akal, dengan pengertian, akal manusia wajib meng’itiqadkan bahwa Allah SWT bersifat seperti dengan sifat-sifat yang diuraikan di bawah ini. (Drs. M. Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama, hal. 66)

[6] Bedanya Esa dengan satu. Esa: khusus kepada Allah, artinya satu-Nya Allah itu tidak ada yang menyerupai Dia. Kalau satu: umum kepada apa saja, contoh: makalah ini satu, tapi di tempat lain ada makalah yang serupa dengan makalah ini, satu tapi banyak yang sama. (Drs. M. Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama, hal. 74)

[7] Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa a.s. merupakan keistimewaan Nabi Musa a.s., dan karena Nabi Musa a.s. disebut: Kalimullah sedang rasul-rasul yang lain mendapat wahyu dari Allah dengan perantaraan Jibril. Dalam pada itu Nabi Muhammad s.a.w. pernah berbicara secara langsung dengan Allah pada malam hari di waktu mi'raj. (Anonim, Al Quran dan Terjemahannya, hal. 151)

[8] Termasuk juga orang yang matinya tanpa kuburan, seperti mati tenggelam, kebakaran, dimakan binatang buas dan sebagainya. (Drs. M. Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama, hal. 87)
[9] Drs. M. Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama, hal. 140
[10] ibid.

[11] Tuhan tidak akan merubah keadaan mereka, selama mereka tidak merubah sebab-sebab kemunduran mereka. (Anonim, Al Quran dan Terjemahannya, hal. 370)

[12] Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. (Anonim, Al Quran dan Terjemahannya, hal. 645)

[13] ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Fatihah ayat 7. (Anonim, Al Quran dan Terjemahannya, hal. 130)
[14] Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman. (Anonim, Al Quran dan Terjemahannya, hal. 417)


Artikel Terkait:

0 komentar:

Poskan Komentar

Read more: http://blogkomputer12.blogspot.com/2012/06/tips-memasang-widget-untuk-mempercantik.html#ixzz2CsoLdPTs

Blogger news

Column 1

Musik

Pages

Popular Posts